Breaking News:

Cerpen A Warits Rovi

Roma Petteng

SIAPA pun yang ingat bangunan tua di balik Bukit Tenggina itu pasti akan bergidik dan bulu kulitnya bakal meremang.

Editor: Hermawan Aksan

"Sebaiknya kita ke arah timur, ke bukit Rongkorong. Kita ke roma petteng." Tiba-tiba Surakna mengajak dua rekannya berbalik haluan.

"Lho? Yang ada pencurian, kan, di barat!"

"Jangan banyak bicara, tahu apa kamu, ini strategi," kata Surakna pedas.

Albi dan Sapi'e patuh. Mereka menuruti kemauan Surakna. Melangkah lemas ke arah timur. Bulu kulitnya kian meremang. Kakinya berderap membelah basah rumputan, menyibak taring bebatu, melewati ladang dan persawahan. Langkahnya lincah menempuh tanjakan berpagar pohon langay yang sepi angin, hanya suara teriakan-teriakan warga dan gema kentongan saling berkelindan di bawah jubah pekat.

"Kalian berdua tunggu di sini! Aku akan ke sana."

"Su, apa yang akan kau lakukan? Kau dalam bahaya."

"Diam! Ini strategi, kalian tidak usah khawatir, aku tidak akan apa-apa."

"Su!"

Surakna tetap melangkah ke arah roma petteng. Albi dan Sapi'e saling berpegang tangan dan saling menyentuhkan badan. Mata keduanya dingin dan awas. Mereka amati rumah yang tampak hitam itu seperti serigala yang sedang pulas di samping pohon beringin dalam kitaran beratus kuburan. Surakna sudah berada di depan pintunya. Sapi'e gemetar, Albi membaca ayat kursi.

Samar-samar di bawah pencahayaan bintang, Albi dan Sapi'e melihat sesosok manusia menuntun sepasang sapi dari arah barat masuk ke rumah itu, sedang Surakna aman dilewatinya. Albi dan Sapi'e memejam mata dan jongkok ketakutan hingga beberapa menit kemudian tak terasa Surakna sudah ada di dekatnya.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved