Cerpen A Warits Rovi

Roma Petteng

SIAPA pun yang ingat bangunan tua di balik Bukit Tenggina itu pasti akan bergidik dan bulu kulitnya bakal meremang.

SIAPA pun yang ingat bangunan tua di balik Bukit Tenggina itu pasti akan bergidik dan bulu kulitnya bakal meremang. Betapa tidak, selain terlihat angker oleh tulang belulang yang berserakan. Bekas posko tentara Jepang itu juga terletak di tengah-tengah kuburan kuno. Gedungnya kusam dan penuh lumut, tapi tetap kokoh tak menampakkan kulit yang mengelupas. Luas bangunan itu sekitar 10 m2, tanpa ventilasi dan hanya punya satu pintu di sisi utara tepat menghadap ke mulut gua yang biasa jadi pondok anjing-anjing galak.

Konon katanya, bangunan itu digunakan pemerintah desa untuk memenjara maling atau orang gila yang mengamuk. Hanya butuh satu minggu dalam dekaman gelap bangunan itu biasanya maling akan sadar dan orang gila akan waras. Tapi ada pula yang mati mengenaskan. Kata tetua desa, tahanan yang mati itu memang tahanan yang tidak akan sadar atau tidak akan waras.

Lintang waktu, seratus tahun terakhir kenyataan itu tak lagi ada, kecuali tinggal cerita-cerita angkernya saja yang tersisa sampai hari ini. Orang-orang lalu beranggapan rumah itu sebagai roma petteng, tempat hewan liar dan makhluk halus berkediaman.

"Rumah itu dihuni banyak tikus dan kalajengking, kadang juga ada ularnya. Ada tengkorak dan batok kepala manusia berserakan di lantainya yang hitam amis darah. Kalau masuk siang hari, dapat kautemui kalong-kalong bertaring tajam tengah tidur di langit-langit rumah itu," kata Surakna kepada Albi di pos ronda. Albi bergidik dan menggeser duduknya lebih dekat lagi kepada teman-temannya karena ia takut.

"Kakak kok bisa tahu? Apa pernah masuk?"

"Hus! Siapa yang berani masuk ke sana. Aku hanya mendengar dari Oba' Muhdar. Hanya dialah tetua paling sakti yang pernah masuk ke sana dengan selamat dan bisa kembali lagi keluar. Kalau yang lain, jadi tumbal semua, sekali masuk tak bisa kembali."

"Mengapa bangunan itu tidak digusur saja?"

"Tidak bisa, pasalnya bangunan itu adalah penjara bagi penjahat di desa ini. Siapa yang mencuri, berzina, merampok, dll, maka orang tersebut akan dimasukkan ke bangunan itu untuk disantap hewan liar dan makhluk gaib lainnya."

"Ah, lebih baik cerita yang lain saja lah, ih," sambung Sapi'e gemetar. Bulan tanggal tua hanya terbit sesabit di balik pohon siwalan. Udara sangat dingin. Tiga orang di pos ronda itu saling membisu. Albi dan Sapi'e terlihat bergidik, duduk berselimut sarung, sedang Surakna santai saja sambil menghabiskan sebatang rokok.

Pukul 02.00 dini hari suara kentong bergema dari kejauhan. Ada pencurian di dusun sebelah. Terdengar pula teriakan-teriakan. Loundspeaker surau mewartakan pengumuman bahwa telah terjadi pencurian sapi. Tiga peronda mulai siap, sarung disandang ke bahu. Tangan kiri memegang lampu senter dan tangan kanan memegang celurit. Mereka mulai melangkahkan kaki meski sebenarnya Albi dan Sapi'e masih sedikit bergidik mendengar cerita seram roma petteng.

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved