Coffee Break

Persikad Purwakarta

Tunggu. Persikad Purwakarta? Tim apaan, tuh? Setahu saya, Persikad merupakan kependekan dari Persatuan Sepak Bola Indonesia Kota Depok.

Persikad Purwakarta
ist
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun Jabar

BEBERAPA hari lalu sebuah stasiun televisi menayangkan satu pertandingan sepak bola. Dua tim yang berlaga adalah Persija Jakarta, tim yang selalu berkompetisi di Liga Super Indonesia, dan Persikad Purwakarta, yang musim ini akan berkompetisi di Divisi Utama Liga Indonesia, satu tingkat di bawah Liga Super. Hasilnya mengejutkan: Persija, salah satu tim elite di negeri ini dan yang sekarang ditangani pelatih hebat Rahmad Darmawan, ternyata takluk di tangan Persikad.

Tunggu. Persikad Purwakarta? Tim apaan, tuh? Setahu saya, Persikad merupakan kependekan dari Persatuan Sepak Bola Indonesia Kota Depok. Dalam pola akronim yang sama, Persija kependekan dari Persatuan Sepak Bola Indonesia Jakarta, Persib kependekan dari Persatuan Sepak Bola Indonesia Bandung, Persikab kependekan dari Persatuan Sepak Bola Indonesia Kabupaten Bandung, dan seterusnya. Bagaimana bisa Persikad kependekan dari Persatuan Sepak Bola Indonesia Purwakarta?

Usut punya usut, awalnya Persikad memang kependekan dari Persatuan Sepak Bola Indonesia Kota Depok, tapi karena alasan minim dukungan dana di kota asalnya, tim ini ditawarkan ke pihak Purwakarta. Alasannya, di Purwakarta ada orang-orang yang bersedia menyandang dana buat Persikad dan Purwakarta kabarnya memiliki stadion yang lebih representatif dibanding Depok.

Bagaimana dengan klub asli Purwakarta sendiri? Di sana ada Persipo, kependekan dari Persatuan Sepak Bola Indonesia Purwakarta (mungkin, ketika tim ini didirikan pada 1964, nama kota itu masih ditulis Poerwakarta). Persipo ini masih resmi Pemerintah (Kabupaten) Purwakarta, dengan ketuanya Bupati Dedi Mulyadi. Sampai sejauh ini, Persipo masih berlaga di Divisi Dua Liga Indonesia, kompetisi tingkat empat di negeri ini, di bawah Liga Super Indonesia, Divisi Utama, dan Divisi Satu.

Jadi, di Purwakarta sekarang ada dua tim dengan pola akronim yang biasa dipakai di kompetisi perserikatan dulu. Di satu pihak, mungkin nama Purwakarta akan turut terangkat karena tim terdahulu, Persipo, masih berkutat di divisi yang lebih rendah. Di pihak lain, bagaimana dengan (pembinaan) sepak bola di Depok sendiri? Apakah akan muncul klub lokal dengan nama baru? Atau akan ada Persikad "Tandingan" misalnya?

Dan Persikad Purwakarta bukanlah satu-satunya tim bernama aneh.

Di Kuningan, ada tim bernama Persires Kuningan FC. Persires merupakan kependekan dari Persatuan Sepak Bola Indonesia Rengat. Rengat sendiri adalah ibu kota Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau. Bagaimana bisa tim yang berasal dari pulau yang jauh mendarat di Kuningan? Boleh jadi pangkal soalnya sama dengan yang dialami Persikad. Persires bahkan memiliki kisah yang lebih panjang sebelum berkandang di Kuningan. Pada 2011, Persires Rengat dibeli Bali Devata FC dan berganti nama menjadi Persires Bali Devata FC. Dua tahun kemudian, tim ini dibeli Cirebon FC dan berubah nama menjadi Persires Cirebon FC. Mulai 2014, tim ini berubah lagi menjadi Persires Kuningan FC.

Nasib Persijatim, tim dengan nama kependekan dari Persatuan Sepak Bola Indonesia Jakarta Timur, lebih lucu tapi juga menyedihkan. Tim ini berdiri pada tahun 1976 sebagai tim perserikatan Jakarta Timur. Karena alasan finansial, klub ini sempat pindah ke Solo dan berbah nama menjadi Persijatim Solo FC pada tahun 2002 hingga 2004. Dengan alasan kurangnya dukungan dari pemerintah dan warga Solo, klub ini dibeli oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dan diganti namanya menjadi Sriwijaya FC Palembang. Setelah terjadi penjualan opsi kepemilikan dari Pemprov Sumatera Selatan, sekarang tim ini dimiliki oleh PT Sriwijaya Optimis Mandiri dengan nama klub Sriwijaya FC.

Bagaimana pembinaan sepak bola di Jakarta Timur sepeninggal Persijatim? Kabarnya, di sana nyaris tak ada kegairahan anak-anak muda untuk menyalurkan bakatnya di sepak bola, kehilangan harapan masa depan, tanpa muara yang bisa menampung talenta yang mereka miliki. Kabarnya pula, hampir semua klub di Jakarta Timur sudah mati dan lapangan sepak bola di kampung-kampung kosong, tak ada kegiatan sepak bola yang berarti, kecuali sekadar permainan sepak bola main-main.

Kalau awalnya sebuah tim bukan perserikatan, dijual ke mana pun bukan masalah. Pelita Jaya FC, misalnya, pernah berubah nama menjadi Pelita Mastrans, Pelita Bakrie, Pelita Solo, Pelita Krakatau Steel, Pelita Jaya Purwakarta, Pelita Jabar, Pelita Jaya FC Karawang, dan Pelita Bandung Raya.

Ya, itu salah satu potret kecil sepak bola Indonesia. Memang menggelikan. Tapi sepak bola Indonesia memang menggelikan, sekaligus memprihatinkan. (*)

Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved