Breaking News:

Cerpen Toni Lesmana

Tarian Kematian

SEBUAH kamar yang pintu dan jendelanya tertutup. Rapat. Seakan tak ada celah untuk udara masuk. Dindingnya berwarna biru gelap.

Pradewi mengejang hebat. Kematian dirasakannya bukan lagi hal yang mengerikan. Tapi menjijikkan sekaligus geli. Bulu-bulu itu. Mungkin ribuan. Telah berubah menjadi ulat dalam darah, daging, dan tulang. Ulat yang terus bergerak. Berdenyut di jantung. Menyebar ke ubun-ubun. Menyebar ke ujung kaki. Merayap dalam tubuh. Terus menari dalam tubuh.

Pradewi mulai menari lagi di atas kasur. Terpejam mengejang. Terjaga menggeliat. Di langit-langit. Lebih banyak lagi bayangannya. Menari dalam gerakan yang tak ia kenal. Gerakannya serupa gerak tubuh ulat. Ulat-ulat itu terus berkembang dengan bulu-bulu hitam yang halus. Yang rakus. Ulat bulu hitam. Pradewi merasakan tubuhnya serupa daun yang dilumat habis. Lumat ia, habiskan. Lenyapkan aku.

Kematian benar-benar tak dapat diduga. Ia mampu masuk ke mana saja. Menjadi apa saja. Pradewi meregangkan tubuh. Tegang. Jari-jarinya seperti ingin meraih tepi-tepi terjauh. Lalu menyusut. Meriut. Kusut seperti selimut.

"Kau siapa?" rintihnya lemas.

Matanya nyaris tertutup ketika dari setiap pori-pori tubuhnya beterbangan kupu-kupu hitam. Puluhan. Ratusan. Ribuan. Pori-pori kulitnya terus menyemburkan kupu-kupu. Telinganya. Mulutnya. Matanya. Helai-helai rambutnya. Telapak tangan dan kakinya. Tak henti menyemburkan kupu-kupu. Tubuhnya bergerak pelan. Seperti riak. Riak mata air kupu-kupu. Kupu-kupu terus beterbangan. Sayapnya yang hitam mengembang, bergetar, dan warna-warna tiba-tiba lahir memancar kemudian berguguran. Seperti hujan aneka warna. Hujan pelangi. Bahwa hitam ternyata rahim bagi warna-warni.

Sisa sayu pandangan Pradewi menatap udara. Ia menangkap bayangannya, lebih banyak lagi, menari sedemikian indah. Tak terbayangkan. Lentur. Geletar. Mengepak. Melayang. Gerakan yang tak pernah dimiliki oleh penari mana pun.

Kematian ternyata begitu mempesona. Begitu membahagiakan.

Pradewi terbaring begitu manis. Parasnya tenang dan nyaman. Puas. Ia seperti sudah menangkap kata-kata dalam mimpinya, seakan telah menemukan pemilik suara dalam mimpinya.

Ia tidur lagi. Dan senyumnya entah ia hadiahkan untuk siapa. Ia sendiri. Terbaring berteman cermin. Nyenyak dalam kamar yang jendela dan pintunya tertutup rapat. Piyama berwarna laut terdampar di bawah cermin.

Lamat-lamat terdengar suara dari pintu. Ketukan-ketukan. Tak lama berubah menjadi gedoran. Teriakan-teriakan. Dan ketika pintu itu berhasil dibuka paksa, ketika beberapa orang menghambur ke dalam kamar, ketika pekik dan jerit memenuhi kamar bercat biru itu, Pradewi terus tersenyum dalam tidurnya, tidur panjang yang telanjang.

***

Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved