Breaking News:

Cerpen Toni Lesmana

Tarian Kematian

SEBUAH kamar yang pintu dan jendelanya tertutup. Rapat. Seakan tak ada celah untuk udara masuk. Dindingnya berwarna biru gelap.

Pradewi semakin liar. Kucing hitam menggeram.

"Kau siapa?" bentak Pradewi pada puncak tariannya. Ia mendengar puluhan gema bersahutan dari arah cermin mengarah pada dirinya. Ia terkulai lemas jatuh pada cakar yang bersiap di atas kasur.

Geram menciumi kupingnya. Menjilat setiap inci kulitnya.

Pradewi seperti sedang dikuliti kematian. Ia menggelinjang. Matanya sedikit nanar. Ya. Kematian bisa masuk kapan saja. Tak ada pintu dan jendela yang dapat menahannya. Barangkali kucing itu kematianku. Barangkali aku telah mati. Pradewi bergulingan. Menggigit bibir sekuatnya. Tapi sakit tak juga hadir. Padahal taring mengiris-iris kulitnya. Bersiap menancap.

Ditangkapnya kucing itu. Dielus bulu-bulunya. Hitam lebat. Ditatapnya mata kucing. Mata yang serupa cermin. Ia melihat dirinya di dalam mata itu. Asyik menari.

"Kau siapa?" desahnya seperti ingin menggigit taring yang berkilat.

Dibenamkannya kepala kucing itu di dadanya. Seperti memasrahkan jantung. Seakan menyerahkan dadanya untuk dilubangi. Dikoyak. Untuk digali dengan runcing taring itu. Kepala kucing itu benar-benar terbenam. Melesak. Geram berjumpa debar. Ayo, bertemulah, bertempurlah. Renggut ia, renggut ia. Renggut aku.

Kepala Pradewi terkulai ke belakang. Ia melihat tembok. Di tembok ia menemukan bayangannya yang juga sedang menari. Ia terpejam. Dalam gelap lebih banyak lagi bayangan tubuhnya asyik menari.

"Kau siapa?" erang berkepanjangan memenuhi kamar.

Kepala kucing itu semakin dalam terbenam. Pradewi merasakan ada yang lembut mengelus dan menusuk jantung. Masuk. Lantas menyebar ke seluruh pembuluh. Bukan taring yang menggigit. Justru bulu-bulu hitam itulah yang kini merasuk dalam urat dan dagingnya. Menjelma ulat. Mereka menari. Menggeliat-geliat. Seperti cacing yang memakan apa saja yang terkubur. Ulat-ulat itu seperti melumatnya sedikit demi sedikit. Ulat-ulat itu terus tumbuh. Ia membayangkan tubuhnya seperti buah yang membusuk, tempat ulat-ulat berpesta-pora.

Halaman
123
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved