Cerpen Toni Lesmana

Tarian Kematian

SEBUAH kamar yang pintu dan jendelanya tertutup. Rapat. Seakan tak ada celah untuk udara masuk. Dindingnya berwarna biru gelap.

SEBUAH kamar yang pintu dan jendelanya tertutup. Rapat. Seakan tak ada celah untuk udara masuk. Dindingnya berwarna biru gelap. Isi kamar berantakan sekali. Sobekan-sobekan foto berhamburan di mana-mana. Buku-buku tergeletak tak beraturan. Pakaian berserakan. Benar-benar seperti kapal pecah. Seakan-akan telah terjadi sebuah peperangan di kamar itu.

Botol bergelimpangan. Ada sisa pecahan beling di beberapa tempat dan gelas-gelas yang tak lagi utuh bentuknya. Di atas kasur seorang perempuan tercenung. Ada tetes darah di lengan yang erat memegang kepala.

Kepala Pradewi pening. Tapi ia tak bisa tidur lagi. Teriakan dalam mimpinya terus menggema. Seakan-akan gemanya berpantulan dalam batok kepalanya. Menerobos keluar melalui tiap helai rambutnya yang acak-acakan. Terus berpantulan kembali di dinding kamarnya. Mimpinya hanya berisi suara teriakan. Teriakan yang datang dari sebuah sudut ruang gelap. Dalam mimpinya ia sedang menari, menari dalam ruangan gelap.

"Bukan bagi dia yang bikin remuk dadamu, cintamu itu, bagi dia yang setia menjagaimu." Kata-kata dalam mimpinya itu seperti tinju yang terus mencecarnya.

Pradewi ingin tidur lagi. Mengulang mimpinya. Dan mengejar suara itu sampai ia tahu siapa yang meneriakkannya. Ia coba mengingat apa saja yang dilakukannya tadi malam, sebelum tertidur, sebelum dibangunkan oleh mimpi itu.

Nihil. Tak ada yang dapat diingatnya. Ia bahkan sulit mengingat siapa dirinya sebelum mimpi itu muncul. Ini malapetaka. Ia seorang perempuan dengan tubuh dibalut piyama warna laut. Duduk termenung di hadapan cermin. Rambutnya lurus sebahu. Sepasang mata mungil. Hidung bangir. Dan bibir yang tak bisa diajak tersenyum. Ada lipstik merah menyala di bibir itu. Ada merah darah menggores pipinya. Kenapa begitu asing pada wajah sendiri.

"Kau siapa?" seolah-olah ia bertanya begitu pada wajah yang ada dalam cermin.

Di atas kasur masih terbaring seekor kucing hitam. Nyenyak sekali. Bulu-bulunya sangat hitam. Gelap. Mirip ruangan di mana ia menari. Tiba-tiba ia membayangkan dari salah satu bulu itulah teriakan mencecar. Ia bergidik ngeri. Dipandanginya kucing itu. Apakah ia menari dalam bulu-bulu itu.

Dari mana datangnya kucing hitam ini. Jendela dan pintu kamar tertutup rapat. Bahkan mungkin terkunci. Tak ada lubang di langit-langit. Kucing hitam ini tak akan muncul begitu saja. Apakah ia meloncat keluar dari mimpinya. Pradewi memeriksa kepalanya. Utuh. Atau mungkin ia melompat dari dalam dadanya. Dirabanya pula dadanya. Yang ada hanya deras debar.

Dari debar itu mengalir sesuatu yang menggerakkan tubuhnya. Ia mulai menari. Menari di depan cermin. Di samping kucing yang menggeliat. Menyeringai. Taring. Pradewi menggeliat. Menggelepar. Ia menatap tajam pada bayangannya dalam cermin. Bayangan yang pecah menjadi dua. Tiga. Empat. Terus bertambah. Bayangan tubuhnya pecah menjadi banyak. Ia menemukan begitu banyak dirinya dalam banyak tarian. Ia mencari yang paling mirip dengannya, tapi semuanya serupa dengan dirinya.

Halaman
123
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved