Harga Beras Mahal
Agar Tidak Bertambah Kesal, Ini Dia Tips Memilih Beras Sehat
Untuk sekadar menurunkan tingkat keluh kesah sekaligus tidak semakin keras menjerit karena beli beras mahal ternyata jelek kualitasnya,...
Penulis: Dedy Herdiana | Editor: Dedy Herdiana
TRIBUNJABAR.CO.ID - Harga beras kini semakin meroket. Padahal, beras masih menjadi makanan pokok yang dikonsumsi sebagian masyarakat Indonesia. Otomatis, banyak ibu rumah tangga yang berkeluh kesah, bahkan menjerit di dalam hati, karena uang belanjanya tak lagi cukup.
Untuk sekadar menurunkan tingkat keluh kesah sekaligus tidak semakin keras menjerit karena beli beras mahal ternyata jelek kualitasnya, setidaknya kita mampu memilih beras yang berkualitas baik dan menyehatkan saat dikonsumsi.
Harga memang berharap tidak terlalu mahal. Untuk soal warna Anda jangan tergiur dengan beras warna putih, karena itu belum tentu sehat, bisa jadi beras itu dicampur pemutih. Agar beras putih, ada orang-orang tidak bertanggung jawab yang mencuci beras itu dengan klorin. Bahkan ada yang setelah mencampur beras klorin kemudian dicampur lagi dengan daun pandan agar wangi.
Seorang ahli seperti dilansir Kompas.com, dr Alyya Siddiqa, SpFK, dosen Farmakologi Fakultas Kedokteran UPN Veteran Jakarta, mengonsumsi klorin dapat menyebabkan kanker kandung kemih, hingga peningkatan prevalensi asma pada anak-anak. Untuk itu, alangkah baiknya jika Anda memperhatikan secara seksama dan teliti sebelum membeli.
Departemen Pertanian sudah melakukan penelitian dan standarisasi (standar nasional Indonesia) soal beras yang baik dikonsumsi masyarakat. Di bawah ini, 8 cara untuk mengenali beras baik dan sehat :
1. Beras bebas dari hama, campuran dedak dan bekatul.
2. Beras belum berumur terlalu lama. Ciri fisik beras yang sudah lama :
- Berbau agak apek, jika digiling tepung yang dihasilkan tidak terlalu kering, setelah dimasak nasi akan mudah basi serta rasanya kurang enak.
- Berkutu, tetapi ada juga kemungkinan beras yang baru akan berkutu karena tertular dari beras lain yang sudah lama.
- Banyak guratan-guratan berupa garis memanjang pada beras dengan tekstur yang cukup jelas. Selain guratan ini, pada beras yang cukup lama juga mulai terlihat penepungan berupa warna putih seperti serbuk yang menempel pada beras.
3. Beras jika digigit terasa keras dan tidak rapuh. Beras yang rapuh biasanya mengandung banyak air sehingga tidak tahan lama jika disimpan. Hal ini dapat disebabkan ulah nakal pengusaha beras yang membasahi beras untuk menambah berat beras.
4. Butir beras berukuran lebih besar dari 0,25 atau lebih kecil 0,74 dari butir beras utuh. Jika ada butiran yang patah dan tidak melebihi ukuran di atas, artinya beras itu masih tergolong baik.
5. Beras harus bebas dari benda asing, seperti: batu, tanah, pasir, potongan kayu, potongan kaca, jerami, biji-bijian, serangga mati, dan lain-lain.
6. Warna beras tidak terlalu putih melainkan bening sedikit kekuningan. Beras yang terlalu putih biasanya telah dicuci dengan bahan pemutih seperti klorin, tawas bahkan pemutih pakaian dan rasanya agak pahit.
7. Beras tidak mengandung bahan pewangi kimia. Beras yang wangi alami hanya Beras Pandan Wangi. Ciri-ciri beras tersebut bentuknya cenderung bulat, tidak panjang/lonjong. Jika fisik berasnya tidak seperti Pandan Wangi, tapi wangi, beras itu diduga mengandung zat pewangi kimia. Namun terkadang beras Pandan Wangi juga diberi zat kimia pewangi agar tahan lama wanginya. Beras Pandan Wangi akan sangat wangi sampai berumur kurang dari 2 bulan. Lebih dari 2 bulan, wanginya berkurang, namun masih bisa mengeluarkan wangi ketika dimasak menjadi nasi. Jika ada yang lebih daeri 2 bulan tapi masih sangat wangi, bisa jadi beras itu diberi zat pewangi kimia.
8. Beras tidak mengandung bahan pelicin. Untuk mengetahui beras mengandung bahan pelicin atau tidak, remas beras dengan tangan yang kering/ tidak berkeringat. Jika mengandung pelicin biasanya beras akan banyak sekali menempel pada tangan, jika tidak hanya sedikit beras yang akan menempel pada tangan. (ddh)