Sorot
Cinta Sepanjang 8.514 Kilometer
FEBRUARI identik dengan segala sesuatu yang berbau love (cinta).
Penulis: Oktora Veriawan | Editor: Dicky Fadiar Djuhud
FEBRUARI identik dengan segala sesuatu yang berbau love (cinta). Dalam mitologi Yunani kuno, bulan Februari adalah saat di mana Dewa Zeus menikahi Hera.
Sementara penanggalan 14 Februari sebagai Hari Kasih Sayang diambil dari kisah Santo Valentinius, seorang calon uskup Roma yang pada 14 Februari abad ke-14 gugur sebagai martir (orang suci dalam ajaran Katolik). Sebelum meninggal ia menulis sebuah pernyataan cinta kecil yang diberikannya kepada sipir penjaranya.
Di Indonesia, rasa cinta di bulan Februari rupanya sudah luntur. Salah satu contohnya saja rasa cinta antarmuslim yang tercoreng dengan aksi tak terpuji dari segerombolan oknum yang menyerang Majelis Az-Zikra pimpinan KH Arifin Ilham, Kamis (12/2) malam. Padahal sehari sebelumnya Presiden Joko Widodo baru menutup Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VI di Hotel Inna Garuda Yogyakarta.
Ke-30 gerombolan yang diduga dari kelompok minoritas ini merusak fasilitas di majelis tersebut dan memukuli staf keamanan di sana. Gerombolan tersebut diduga tak terima atas tersebarnya spanduk-spanduk fatwa haram terhadap ajaran minoritas.
Di dunia olahraga, kata cinta pun mengiringi peluncuran Liga Super Indonesia 2015, Sabtu (14/2)
malam. Dengan mengusung tema Love, LSI ingin menjadi kompetisi yang menyebarluaskan rasa cinta, kekeluargaan dan kebahagiaan bagi seluruh unsur yang terlibat di dalamnya.
Tapi spirit Love ini hanya kamuflase saja. Love mungkin hanya bisa dirasakan para petinggi PSSI saja, tidak untuk pemain dan suporter. Jika ingin benar-benar mengusung spirit Love, apa benar kompetisi ini bisa menjamin bahwa gaji pemain tak akan ditunggak lagi musim ini? Apa bisa akan tumbuh Love antarsuporter? Dan apa benar klub-klub akan bahagia menjalani musim panjang kompetisi?
Musim lalu saja, kerusuhan suporter masih terjadi. Boro-boro berdamai, percik-percik kebencian terus disulut antarsuporter. Contohnya, saat bobotoh pulang dari Palembang tiba-tiba diserang oknum suporter lain di perjalanan. Contoh lain pada turnamen pramusim kemarin, nyanyian rasis masih saja diperdendangkan antarsuporter yang berselisih.
Lima hari jelang kick off LSI pada 20 Februari, tiga klub (PSM, PBR dan Persija) masih menunggak gaji pemainnya musim lalu. Tak salah jika Badan Olahraga Profesional Indonesia (Bopi) dan Kemenpora, meminta kick off ditunda sampai urusan tunggakan gaji pemain tuntas.
Di dunia politik, rasa cinta pun sudah hilang pasca head to head antar dua lembaga tinggi negara, KPK dan Polri. Tak ada lagi keharmonisan dari kedua lembaga penegak hukum ini seusai KPK menetapkan calon Kapolri Komjen Budi Gunawan sebagai tersangka gratifikasi. Tak mau kalah, Polri pun menetapkan beberapa pimpinan KPK sebagai tersangka atas laporan dari beberapa orang.
Dan hari ini, 16 Februari, perseteruan Polri dan KPK memasuki babak baru. Hakim PN Jakarta Selatan akan mengetuk palu putusan sidang pra-peradilan dari pemohon Komjen Budi terhadap KPK. Kita tak perlu berandai-andai, mudah-mudahan hakim Sarpin Rizaldi bisa memutuskan seadil-adilnya.
Dan seusai putusan pra-peradilan tersebut, rakyat pun berharap Presiden Jokowi bisa berinisiatif untuk segera menyelesaikan konflik KPK versus Polri ini sesuai janji yang sering diumbarnya. Hari ini, rakyat tak mau melihat Presiden ragu-ragu lagi dalam mengambil keputusan.
Cukup kemarin-kemarin saja engkau ragu dan bimbang akibat telingamu direcoki orang-orang penting di sekelilingmu. Mulai hari ini, jika engkau cinta rakyat maka dengarlah suara rakyat karena negara sepanjang 8.514 kilometer ini bukanlah milik pimpinan parpol pengusung, bukan juga milik orang-orang penting di sekeliling telinga Presiden. Jangan engkau ragu lagi karena cinta tak mengenal kata ragu-ragu. (*)
Naskah Sorot ini bisa dibac adi edisi cetak Tribun Jabar, Senin (16/2/2015). Ikuti berita-berita menarik lainnya melalui akun twitter: tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline.