Breaking News:

Cerpen Adi Zamzam

Sang Penjinak Angin

NUR sebenarnya tak ingin ikut-ikutan mereka yang begitu tergila-gila berburu angin. Jikalau bukan karena istrinya yang, "Kita harus punya angin...

Editor: Hermawan Aksan

"Azab apa?!" salah seorang menanggapi dengan rasa tak suka.

"Kita mengumpulkan angin secara membabi buta. Tanpa peduli atas kerusakan yang ditimbulkannya. Lihatlah kerusakan yang telah diakibatkannya," sahut orang pertama tadi.

"Heh, kau juga turut melakukannya. Jadi, jangan bilang bahwa ini azab. Apa kau tak malu?!"

Mereka terus saja berdebat perihal bencana yang melanda seisi kota. Bahkan hingga mereka pulang dari pengejaran yang sia-sia. Banyak orang tersungkur lemas begitu melihat keadaan kota pascabencana. Puting beliung itu telah menyapu bersih beberapa kota hanya dalam hitungan jam. Dan di antara wajah-wajah kuyu itu, adalah seorang perempuan yang mulai teringat dengan Nur, mantan suaminya. Hatinya terus saja ingkar bahwa ini adalah saat-saat yang pernah diucapkan lelaki itu.

Perempuan itu tergugu di hadapan bekas bangunan istananya. Istana yang kata mantan lelakinya hanya terbuat dari angin (tidak dalam penglihatan perempuan itu). Wajah suaminya yang juga terlihat putus asa jadi terlihat tak menarik lagi. Dialah yang menyempurnakan keindahan istana ini untuknya. Istana yang kini hanya tinggal bekasnya.

Diam-diam, tanpa sepengetahuan suaminya, perempuan itu justru penasaran dengan nasib Nur kini. Di mana lelaki itu sekarang? Bagaimana keadaannya? Apa yang sedang dilakukannya? Perempuan ini didera kerinduan dengan masa lalu.

**

KABAR tentang keberadaan Nur akhirnya tercium juga. Perempuan itu langsung terbebat penasaran begitu mendengar nama seorang penjinak angin yang mengingatkannya dengan nama mantan suaminya. Konon penjinak angin itu mampu melumpuhkan angin yang keluar-masuk kota. Tapi orang aneh itu (banyak yang menyebutnya seperti itu) tak mau membangun tempat tinggal dan mengumpulkan angin sebanyak yang seharusnya ia bisa.

"Semua angin yang datang padanya justru dibagi-bagikannya kepada orang lain yang meminta." Itu yang perempuan ini dengar sehingga ia semakin yakin bahwa orang itu adalah mantan suaminya.

Perempuan ini berniat menemui Nur lagi. Tak tahu mengapa ia begitu rindu dan ingin melihatnya. Hanya ingin melihat. Cuma itu. Ia tahu bahwa kembali kepadanya adalah hal yang mustahil—lagi pula ia benar-benar tak mau! Mereka berdua ibarat dua kutub yang saling bertolak belakang. Ia akan tetap menjadi pengumpul angin dan membangun istananya kembali semegah mungkin. Betapapun nanti akan kembali roboh!

Ini hanyalah soal bahwa ia akan memperlihatkan diri di hadapan Nur, bahwa ia belum sepenuhnya kalah!

***

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved