Coffee Break

Celeng

BAGI masyarakat Sunda, boleh jadi celeng (babi hutan) layak dihormati. Alkisah, di negeri Kahyangan ada sepasang dewa-dewi yang berbuat kesalahan.

Celeng
dokumentasi
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun

BAGI masyarakat Sunda, boleh jadi celeng (babi hutan) layak dihormati. Alkisah, di negeri Kahyangan ada sepasang dewa-dewi yang berbuat kesalahan. Sebagai hukuman, mereka dikutuk Sang Hyang Tunggal turun ke bumi dalam wujud hewan. Sang dewi berubah menjadi celeng dengan nama Wayung Hyang, sedangkan sang dewa berubah menjadi anjing bernama si Tumang. Mereka menjalani kehidupan bersama makhluk bumi seraya bertapa dan memohon pengampunan agar dapat kembali ke wujud semula menjadi dewa-dewi.

Suatu hari, ketika berburu di hutan, Raja Sungging Perbangkara membuang air seni, yang tertampung di daun caring atau keladi hutan (dalam versi lain dikisahkan air seni sang raja tertampung di batok kelapa). Tak lama kemudian Celeng Wayung Hyang, yang tengah bertapa, merasa haus dan tanpa sengaja meminum air seni sang raja. Secara ajaib Wayung Hyang hamil, lalu melahirkan seorang bayi perempuan yang cantik. Bayi itu kemudian ditemukan di tengah hutan oleh sang raja, yang tidak menyadari bahwa ia putrinya. Bayi itu diberi nama Dayang Sumbi, yang kelak menikah dengan si Tumang dan melahirkan Sangkuriang.

KBBI hanya mendefinisikan celeng sebagai babi hutan atau babi yang liar, sedangkan babi sendiri adalah binatang menyusui yang bermoncong panjang, berkulit tebal, dan berbulu kasar. Literatur lain menyebutkan celeng (Sus scrofa) sebagai nenek moyang babi liar yang menurunkan babi ternak (Sus domesticus). Daerah penyebarannya adalah di hutan-hutan Eropa Tengah, Mediterania (termasuk Pegunungan Atlas di Afrika Tengah) dan sebagian besar Asia hingga paling selatan di Indonesia. Di Jawa, celeng diketahui berkawin silang dengan babi bagong (Sus verrucosus).

Di jagat pewayangan, tatkala membuka Hutan Gajahoya untuk membangun Kerajaan Hastinapura, Palasara menghimpun energi para binatang hutan untuk menjadi kekuatannya. Binatang-binatang penghuni hutan ia ciptakan menjadi manusia untuk membantu tata pemerintahannya yang baru. Celeng Demalung adalah salah satu binatang hutan yang menjadi manusia.

Selain dalam kisah berdirinya Hastinapura, Celeng Demalung dikisahkan pula dalam cerita Dewi Sri. Namun pada kisah ini, Celeng Demalung bukan punggawa Hastina, melainkan pengikut Putut Jantaka yang menjadi musuh petani karena dianggap sebagai hama dan perusak tanaman.

Berkebalikan dengan kisah berdirinya Hastinapura, yakni celeng diubah menjadi manusia oleh kesaktian Palasara, di dalam kisah Arjuna Wiwaha ada seorang manusia raksasa yang bernama Mamangmurka diubah menjadi seekor celeng oleh kesaktian Begawan Ciptaning Mintaraga.

Lepas dari status sebagai hewan terhormat atau terkutuk, celeng bagi pelukis Djoko Pekik justru mengalirkan rezeki yang melimpah. Pelukis asal Yogya itu melukis seekor celeng yang diikat dengan sebatang pikulan dan diarak massa. Wajah-wajah orang itu menggambarkan berbagai ekspresi, tapi jelas menunjukkan euforia dan keberangan terhadap sang celeng yang kelihatan tak berdaya. Mungkin Djoko Pekik sendiri tidak menyangka lukisannya yang berjudul Berburu Celeng, yang dibuatnya tahun 1998, dihargai satu miliar rupiah. Bagaimana mungkin ada orang gila yang berani membeli lukisan karya pelukis yang semula tak banyak dikenal itu dengan harga selangit? Ada yang menafsirkan celeng pada lukisan itu sebagai sosok sang penguasa yang baru saja tumbang saat itu.

Sindhunata pernah menulis, celeng yang tertangkap rakyat dalam lukisan itu sesungguhnya bukanlah celeng betulan, melainkan celeng jadi-jadian. "Memang dalam masyarakat Jawa ada yang namanya pesugihan babi ngepet atau bagong liyer (mungkin maksudnya bagong lieur, pen.) atau celeng gontheng. Seperti halnya kodhok ijo, kandhang bubrah, atau Nyai Blorong, pesugihan babi ngepet adalah sejenis upaya menumpuk kekayaan dengan cara menyerahkan diri kepada setan.... Dengan pesugihan babi ngepet atau celeng gontheng, orang dapat mengubah dirinya menjadi celeng. Ia dapat berkeliaran ke mana-mana, mencuri dan mengeruk barang, harta, atau kekayaan tanpa diketahui siapa pun. Ia bisa mengeduk apa saja, jagung, padi, ketela, dan palawija lain, lalu membawanya pulang ke rumah untuk dijadikan makanan berlimpah bagi dirinya sendiri dan sanak keluarga," tulis Romo Sindhunata. Sang Romo pun bertanya, "Celeng dhegleng sudah tertangkap, tapi mengapa di depan semuanya tambah gelap?"

Ya, masa kegelapan Orde Baru sudah lama usai, tapi era reformasi masih tetap atau bahkan tambah gelap: korupsi, pertikaian di parlemen, "cicak vs buaya", dan lain-lain, termasuk... bakso celeng. (*)

Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved