Cerpen Eko Triono

Di Kiaracondong, Ada Ramuan Tertentu

Kita memasuki Stasiun Kiaracondong dan gerimis jatuh terpitas dalam minyak panas penggorengan tahu di muka pasar malam, tepat di depan parkiran.

Di Kiaracondong, Ada Ramuan Tertentu
Ilustrasi Cerpen Di Kiaracondong, Ada Ramuan Tertentu 

PADA hari ketika kita tak lama lagi akan tenggelam dalam fantasi yang berharga, seperti kisah dua musafir dalam seribu satu malam yang terjebak di kota ajaib padang pasir, cuaca Bandung sedang merembang petang. Kita memasuki Stasiun Kiaracondong dan gerimis jatuh terpitas dalam minyak panas penggorengan tahu di muka pasar malam, tepat di depan parkiran. Pasar kejutan itu didirikan di atas rel-rel yang tak berguna, yang tampaknya pada siang tak lebih dari tempat terbangnya sampah-sampah plastik dan burung-burung malas, namun pada malam berubah menjadi pusat terbangnya segala macam imajinasi tentang cahaya, makanan, masa kecil, dan potongan harga.

"Oh," kata pegawai dapur stasiun dengan logat Sunda. "Bukan obral yang menarik di pasar malam itu, tetapi ramuan tertentunya, Aa."

Dari dialah pengetahuan pertama tentang ramuan tertentu diperoleh. Ketika itu, kita sedang menunggu antrean toilet, dekat dapur, dekat musala. Delapan orang dengan gamis padang pasir mendirikan salat Magrib jamak Isya di hamparan rumput hijau tropis, di bawah pohon mangga yang sedang hamil muda. Kamu bertanya, mengapa salat di situ? Kujawab, musalanya sempit dan bumi Allah luas. Lagi pula, mengapa di bumi seluas ini dibuat musala sempit dan dekat toilet. Di depan tinggal satu antrean. Kamu ingin segera ke pasar malam, membeli gula-gula kapas, membeli masa kecil, sementara aku mulai penasaran dengan ramuan yang diceritakan pegawai dapur. Sedang pengumuman kedatangan kereta, ketika kamu kembali tanya. Aku tidak dengar jelas, ulangi. Apa hanya mereka yang akan masuk surga? Aku melihat, tiga ekor kucing mendekat ke jemaah itu, seakan ingin bergabung. Kutanya balik, bukankah kita membaca doa yang sama, menghadap Allah yang sama? Dan, apa disebutkan dalam kitab suci, harus pakai gamis kalau mau masuk surga? Lagi pula, ayahku nelayan, beliau pasti akan kesulitan dengan gamis di lautan ganas yang belum menjadi padang pasir. Dan ibuku petani, beliau sering berkubang di sawah berlumpur dan jalan di pematang, tidak hanya di rumah atau ke pengajian.

"Jadi?" kamu ingin ketegasan, menatapku, menahan suara, sehingga kita seolah sepasang mata-mata yang sedang diskusi dengan berbisik.

Giliranmu sudah tiba. Toilet hanya ada dua, tanpa keterangan laki-laki dan perempuan. Lagi pula, tidak menyenangkan membicarakan ini. Lebih baik kita segera salat dan menuju pasar malam, mencari ramuan tertentu. Keluar, jalan lurus ke pasar malam, di atas rel-rel tak berguna, kita disambut jerit musik dangdut yang melagukan tentang letak rasa sakitnya cinta; di mana? Di sini, di dalam hatiku. Kamu tertawa, dan suara pitasan gerimis gaib masih jatuh di penggorengan, tapi kini bukan hanya tahu, ada molen, bakwan, tempe, cimol, telur, dan entah apa lagi. Memperhatikan langkah di atas rel-rel bekas, pada jalur pengunjung yang belum padat, kepalamu terantuk gula-gula kapas ringan yang digantung dalam plastik-plastik. Di sebelahnya, pada desakan lapak, sedang diputar as rahasia sebagai alat menciptakan gula-gula kapas dengan aneka warna untuk menyihir masa kecil pengunjung. Tapi, kamu tidak jadi beli, kita langsung cari penjual ramuan tertentu saja, katamu, waktu kita terbatas. Pukul delapan harus sudah masuk stasiun, menunggu kereta Kahuripan.

Setelah melewati empat lapak pakaian; lapak obral pernik rumah tangga serba lima belas ribu tiga; lewat di jasa kereta tiruan buat anak-anak yang untuk menghentikan cukup ditahan gerbong kecilnya dengan tangan, sehingga mesin diesel 24 PK itu menderum ngilu; kemudian belok kanan, lewat rel-rel berkerikil; yang diganjal papan dan bersampiran kabel-kabel, maka kita sampai pada tempat yang disebutkan orang-orang. Tenda biru digelar di atas kerikil-kerikil. Di atasnya, seakan pada sepotong area paling bahagia di muka bumi, mulai kita melihat tiga gadis kecil yang seolah sedang berpantomim dengan gerak dari jiwa paling murni; satu tidak banyak bicara tapi aktif bergerak; satu keriting dan cerewet; dan satunya lagi sering melonjak-lonjak, mungkin karena dia paling pendek. Mereka ribut saling berseru soal kupu-kupu, soal capung, dengan tangan yang terus-menerus bergerak seolah mengayunkan alat penangkap yang terbuat dari galah panjang, memiliki jaring, dan berlari-lari kecil seakan-akan ada di sebuah taman yang lapang. Lebih dari itu, mereka tampaknya terpejam, benar?

"Iya, benar," bisikmu, memastikan.

"Itu berkat ramuan tertentu," kata orang di samping kita, juga berlogat Sunda. "Itu anak-anak saya. Kalian baru pertama ke sini, ya? Mau coba? Buruan, atuh, keburu ramai."

Yang kita temui di lapak adalah empat orang lelaki dengan iket kepala, sebuah kendi tembikar di atas meja, dan bumbung bambu yang dipotong tepat pada ruasnya. Di bawah penerangan, seorang menjelaskan tata cara meneguk ramuan tertentu. Kamu bertanya, apa ini, maaf, halal, apa ini, maaf sihir? Dua dari mereka tertawa renyah, sehingga kita yakin tidak ada yang tersinggung, hanya paham, kita belum pernah mencobanya. Seorang yang sepertinya suka bicara pada orang lain menjelaskan ramuan ini adalah ramuan turun-temurun dari Suku Naga dan halal, tapi namanya dirahasiakan, jadi disebut: tertentu. Untuk mencobanya, kita merogoh kocek 25 ribu. Terlebih dahulu, memejamkan mata dan mengulang-ulang pembayangan yang diinginkan. Tidak ada mantra. Hanya perlu mengulang-ulang pembayangan, tegasnya.

Kuteguk dari gelas bumbung bambu. Rasanya seperti nira kelapa. Ada rasa daun mint, kemudian pahit adas-pulasari. Aku didorong untuk ke area dengan tenda. Area tempat tiga gadis kecil sedang riang, ditambah beberapa orang lagi, ada dua usia dewasa, satu manula, satu anak kecil, lalu, aku melihat laut, laut yang berderu, laut yang biru. Aku mulai samar mendengar suara sekeliling, tawar-menawar, kemudian suara angin membuat telinga dingin; aku melihat lampu-lampu lapak, kemudian deretan pasir, garis pantai, kaki langit, kapal-kapal di kejauhan, dan teman-teman masa kecil begitu nyata datang, dan memanggil, kemudian suaramu bertanya apa aku baik-baik saja, kemudian lenyap, kemudian aku melihat diri kecilku telanjang menerjang ombak.

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved