Coffee Break

Batu Akik

SAYA pernah memakai cincin yang bermata batu akik, tapi tidak tahu jenisnya dan apa khasiatnya. Batu itu pemberian orang dan saya tidak merasakan...

Batu Akik
istimewa
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun Jabar

SAYA pernah memakai cincin yang bermata batu akik, tapi tidak tahu jenisnya dan apa khasiatnya. Batu itu pemberian orang dan saya tidak merasakan perbedaan apa pun antara sebelum dan sesudah memakai cincin. Hanya sekali, seseorang yang tidak saya kenal mengatakan bahwa cincin itu cocok sekali dengan saya. Apa maksudnya, entahlah.

Yang pasti, saya sekarang tidak lagi memakainya. Juga ketika sekarang batu akik sedang naik daun (lagi), saya tidak tergoda untuk memakainya lagi atau berniat menjualnya—walaupun mungkin saja tinggi harganya. Saya hanya takjub sekaligus heran harga batu akik bisa melejit tinggi belakangan.

Batu akik memang memiliki sejarah panjang. Konon Rasulullah pernah memakai cincin perak yang bermata cincin Habasyi. Para ulama berpendapat, yang dimaksud dengan "mata cincin Habasyi" adalah batu yang berasal dari Habasyi, jenis batu merjan atau akik karena dihasilkan dari pertambangan batu di Habsyi dan Yaman. Pendapat lain mengatakan bahwa mata cincin Rasulullah berwarna seperti warna kulit orang Habasyi, yaitu hitam.

Bagi yang percaya, batu akik konon bisa mendatangkan tuah seperti memudahkan rezeki atau menambah wibawa. Ada juga batu-batu jenis tertentu yang konon biasa dipakai pria untuk memikat wanita. Yang pasti, batu akik umumnya digunakan oleh laki-laki. Islam sendiri melarang kaum pria memakai perhiasan emas. Mungkin karena itu batu akik menjadi alternatif perhiasan untuk menunjang penampilan.

Soekarno dikabarkan memiliki cincin bermata rubi, atau umumnya dikenal juga dengan nama batu merah delima, yang masih satu keluarga dengan batu safir. Beberapa presiden berikutnya, termasuk SBY dan Gus Dur, juga dikabarkan memakainya, meski tidak setiap saat. SBY pernah terlihat memakai cincin dengan mata cincin biduri mata kucing krisoberil. Mantan gubernur DKI Fauzie Bowo juga memakai cincin berbatu akik. Begitu juga pengusaha Probosoetedjo. Namun saudaranya, mantan presiden Soeharto, meski dikenal kuat kejawaannya, kabarnya tidak memakai cincin berbatu akik.

Jokowi sama dengan Soeharto. "Saya nggak pernah pakai jam atau pakai cincin," kata Jokowi beberapa waktu lalu, sambil menunjukkan tangannya yang polos. Ucapan Jokowi itu ditimpali Wapres Jusuf Kalla. "Yang pakai batu itu jagoan," katanya.

Umumnya orang memakai cincin di jari manis, kanan dan atau kiri. Namun yang menakjubkan, ada orang yang memakai cincin berbatu akik di sepuluh jari tangannya. Sebut saja pelawak Tessy dan sastrawan Remy Sylado.

Sepanjang sejarah, bukan tidak mungkin batu akik sudah mengalami gelombang turun-naik harga berkali-kali. Jika benar demikian, mengapa harga batu akik tidak bisa tetap tinggi sebagaimana harga emas misalnya? Padahal batu akik juga memiliki struktur yang stabil. Batu akik tidak akan rusak atau pudar warnanya setelah sekian puluh atau ratus tahun.

Naik daunnya batu akik belakangan ini mengingatkan saya pada heboh tanaman anturium atau "gelombang cinta" beberapa tahun lalu. Saat itu, enam atau tujuh tahun lalu, tanaman tanpa bunga itu mendadak bagai raja tanaman. Ada jenis anturium yang baru tumbuh dengan dua helai daun selebar kuku jari bisa laku ratusan ribu rupiah. Apalagi yang sudah besar dan dedaunannya melebar ke mana- mana, orang berani menukarnya dengan sepeda motor, bahkan mobil! Banyak orang yang kemudian banting setir menjadi penjual tanaman jenis ini, dengan harapan segera menjadi jutawan. Mereka menggelontorkan modal ratusan juta dengan impian meraih keuntungan berlipat ganda. Namun euforia gelombang cinta itu tak lama kemudian sirna. Kini anturium sama harganya dengan tanaman lain umumnya. Banyak yang bilang heboh anturium semata-mata permainan orang berduit.

Harga lukisan juga bisa turun-naik. Beberapa tahun lalu sempat terjadi booming lukisan. Tentu saja berbeda dengan tanaman gelombang cinta, lukisan memiliki nilai seni tersendiri yang sudah diakui oleh para ahli. Makin tinggi nilai seninya, makin tinggi harganya. Toh, seorang kurator lukisan pernah mengakui bahwa banyak orang kaya yang bisa mempermainkan harga lukisan.

Apakah batu akik mirip dengan lukisan, yakni ada pihak tertentu yang mengatur harga? Mungkin itu bukan kejahatan. Hanya saja, jangan sampai para penggemar batu akik terbuai oleh harga wah seperti ketika terjadi heboh gelombang cinta.

Dan yang penting, jangan menjadikan batu akik sebagai berhala baru. (*)

Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved