Cerpen Fandrik Ahmad

Solilokui Kemboja

PUTIK kemboja mekar. Aromanya menggoda. Arini menemukan kesempurnaan pada putik itu. Sesekali ia memejamkan mata dan menghirup udara ...

PUTIK kemboja mekar. Aromanya menggoda. Arini menemukan kesempurnaan pada putik itu. Sesekali ia memejamkan mata dan menghirup udara sedalam perasaannya. Taman kemboja di belakang rumah cukup nyaman menemani masa lapuk hidup di usia senja yang melelahkan.

Kerut di bibirnya bergerak samar. Tangannya lembut menyentuh dan mengusap daun-daun. Arini sudah berjanji pada dirinya betapa ia tak akan bermimpi karena bermimpi di usia senja hanya membuang percuma waktu yang tersisa. Bernonstalgia dengan kenangan lebih baik, desisnya.

Hidup di usia senja adalah masa yang sulit: kulit mengeriput dan tenaga menyesak di dada. Apabila dipaksa, bukan otot-otot yang bergerak dinamis, melainkan dada yang kembang kempis. Itulah kenapa ia tidak mau bermimpi.

Putik kemboja itu menjadi semacam cermin hidup untuknya: dunia yang terlewati dan dunia yang masih akan dilewati. Ia banyak diam. Kalau harus bercakap-cakap, tentu lawan cakap yang dipilih adalah bunga dengan kelopak merah kesumba serupa warna gincu perempuan.

Ibu tiga anak itu betah berlama-lama di pekarangan seluas 45 meter itu. Di sudut bagian timur laut ada kursi panjang dengan garis-garis kecil pada bentangannya. Ukiran kepala naga di ujung sisi tempat punggung bersandar. Motif bunga berpita terbingkai pada lekuk pegangan tangan.

Memandangi kursi itu, Arini ingat tiga anaknya: Akbar, Nuril, dan Taris. Akbar dan Nuril tak lebih perhatian dibanding kepada keluarganya. Sebulan sekali, kadang lebih, Akbar menjenguk. Hanya pada akhir tahun istri dan anaknya dibawa. Nuril lebih parah. Perempuan yang disunting seorang tentara itu jarang pulang menjenguk Arini. Perempuan dengan alis tebal itu sering berpindah kota mengikuti laras panjang suaminnya dipindahtugaskan. Nuril lebih sering bertanya kabar melalui seluler ketimbang datang, memeluk, dan mencium tangan Arini.

Arini tinggal bersama Taris. Namun, Taris tampak lebih mencintai profesinya sebagai wartawan di majalah wanita mingguan. Perempuan dengan banyak koleksi tahi lalat di wajahnya itu sering keluar hunting berita. Pada akhir pekan, ia memilih cangkruan bersama teman-temannya atau mengurung diri di kamar. Arini cukup memaklumi, tidak mungkin usia muda Taris hanya diisi kegiatan rumah. Arini tidak mau membebani gadis semuda dan secantik Taris dengan segala kerumitannya.

Arini merindukan ketiga anaknya duduk dalam satu meja panjang, menyantap hidangan bersama-sama. Tetapi mereka sudah memiliki keluarga sendiri. Arini pun tidak meminta yang macam-macam. Ia cuma membayangkan satu hal, seandainya salah satu dari mereka ada yang memperhatikan layaknya perhatian ibu kepada anaknya, tentu sudah lebih dari cukup. Tetapi ia tak menggantung harap setinggi perasaannya. Bukankah kasih ibu sepanjang masa dan kasih anak sepanjang galah?

Kadang Arini teringat masa mudanya menjadi seorang ibu yang merawat dan menjaga anaknya penuh kasih sayang. Ketika rewel dan menangis, ia bersigegas ke dokter, memeriksa apakah anaknya sakit. Ketika ngompol, ia bersigegas membersihkan dan mengganti popoknya. Ketika anaknya bisa menunjuk-nunjuk tanpa harus berbicara, bukan main kebahagiaannya.

Namun, ketika semuanya sudah dewasa, Arini berpikir betapa diam kadang lebih berharga ketimbang bercakap-cakap.

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved