Cerpen Guntur Alam

Hujan Turun di Braga

TEPAT ketika aku menjejakkan kaki di trotoar minimarket K, gerimis pecah menjadi hujan. Jalanan Braga terlihat kuyup...

Hujan Turun di Braga
Ilustrator Tribun Jabar
Ilustrasi cerpen Hujan Turun di Braga 

TEPAT ketika aku menjejakkan kaki di trotoar minimarket K, gerimis pecah menjadi hujan. Jalanan Braga terlihat kuyup, taksi yang tadi kutumpangi telah menghilang di belokan jalan depan sana. Aku menghela napas. Tak banyak yang berubah dari Braga, tetap seperti dulu. Menenteramkan. Sukar dilupakan dan tentu saja menyimpan kenangan di sepanjang jalannya. Tiba-tiba saja dadaku terasa sesak.

Orang bodoh mana yang mau datang jauh-jauh hanya untuk menjumpai kenangan yang membuat dadanya memar?

Dari kaca dinding minimarket K yang suram dan berembun, aku melihat pantulan wajahku sendiri. Seakan bayangan itu memberi jawaban atas pertanyaan yang baru saja melintas di benakku. Lagi, aku dibuat menghela napas. Mungkin aku memang bodoh, tapi aku merindukannya. Tak ada obat untuk sebuah rindu selain pertemuan. Dan aku hendak menuntaskannya.

Aku segera melangkah, meninggalkan minimarket K. Kami janji bertemu di sebuah kafe ujung jalan ini, sebelum belokan. Aku masih mengingatnya. Kafe J. Dan tadi, aku sengaja turun beberapa meter dari tempat itu untuk menenangkan diri dari harapan yang mendadak menyerang.

Entahlah... seperti tujuh tahun lalu, sebuah harapan memenuhi kepalaku. Aku membayangkan dia sudah duduk manis di meja paling pojok. Menungguku, lalu ketika aku muncul di pintu depan, dia akan menyambutku dengan setangkup bibir hangat. Dadaku mengembang.

Harapan itu melemparku pada kenangan. Pada perjumpaan kami tujuh tahun lalu, di sini. Di jalanan Braga yang basah oleh hujan. Ingatan membawaku berlari pada kafe sunyi dan hujan yang turun sendiri di luar sana. Semuanya terasa begitu bening, seakan baru saja terjadi kemarin. Aku menyesap kopi yang kupesan, lalu mataku berlabuh pada dia yang sendirian menikmati hujan dari balik jendela. Tatapan matanya yang membuat punggungku terangkat dari kursi, lalu duduk di sebelahnya, setelah terlebih dahulu bertanya apa dia berkenan aku duduk di dekatnya.

Tatapan kosong, wajah berduka, dan setangkup bibir basahnya yang membuat mataku tak mampu berpaling darinya. Sebagai laki-laki lajang dan melihat perempuan secantik dia hanya ditemani wajah sedih, aku berusaha mengajaknya ngobrol. Awalnya dia tak terlalu menggubris, tapi aku terus mengoceh seperti radio soak di depannya.

Pada menit kesekian kebersamaan kami itu, saat aku mulai diserang putus asa untuk mendapatkan perhatiannya, dia menggerakkan bibir dan terdengar suara lirihnya: "Aku tak ingin diganggu. Anda bisa duduk di kursi lain. Tak ada pengunjung selain kita."

Rasa cappucinno yang melewati tenggorokan membuatku paham dengan ucapannya itu. Dia mengusirku. Tapi aku membalasnya dengan senyuman dan sebuah jawaban: "Mantan pacarku baru saja memberiku kartu undangan pernikahannya. Aku juga sedang sedih sepertimu. Mungkin kamu ingin berbagi kesedihan denganku, agar dadaku tak terlalu sesak. Juga dadamu."

Ia menoleh, menatapku tajam. Aku suka manik matanya yang terlihat basah dan berkilat. Manik itu berwarna cokelat. Aku membalas tatapannya itu dengan tersenyum, lalu menjangkau kembali gelas minumku, menyesap isinya perlahan dan meletakkannya kembali di atas meja. Setelah itu, aku membasahi mataku dengan hujan di luar sana.

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved