Rabu, 8 April 2026

Evakuasi Pesawat dan Penumpang AirAsia

Sang Penemu Black Box AirAsia Ungkapkan Rahasia Keberhasilannya

Ada beberapa faktor yang mendukung keberhasilan penemuannya.

Editor: Dedy Herdiana

PANGKALAN BUN, TRIBUN - Tim penyelam gabungan TNI angkatan laut berhasil menemukan dan mengangkat dua black box pesawat AirAsia QZ8501 yang jatuh di Selat Karimata, dekat Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, dalam waktu dua hari.

Pada Senin (12/1/2014) pagi, tim penyelam berhasil menemukan black box Flight Data Recorder (FDR) yang merekam data penerbangan pesawat. Kemudian, Selasa pagi, tim penyelam kembali berhasil menemukan black box Voice Cockpit Recorder (VCR) yang merekam percakapan pilot dan kopilot di cockpit.

Keberhasilan tersebut diungkapkan, Serda Rajab Suharno yang berhasil menemukan dua black box itu ada beberapa faktor yang mendukung keberhasilan penemuannya. Pertama, karena adanya pinger detector yang menjadi alat penentu bagi penyelam untuk dapat menemukan lokasi black box. Alat yang berbentuk seperti hair dryer ini bisa mendeteksi lokasi black box dengan mengeluarkan bunyi yang dapat didengar oleh penyelam. Semakin dekat lokasi black box, maka bunyi ping yang dikeluarkan alat itu akan semakin jelas.

"Alat ini sangat membantu, kalau tidak ada pasti akan sangat sulit," ujar Rajab setelah menemukan black box kedua, di KRI Banda Aceh, Selasa sore.

Dengan keberhasilan menemukan dua black box itu dengan pinger detector, para penyelam lain pun memanggil Rajab dengan sebutan Pinger-Man. Rajab dianggap sebagai penyelam yang paling jago menggunakan alat itu.

"Pinger-Man, Pinger-Man," seloroh para penyelam, yang hanya dibalas dengan senyum oleh Rajab.

Kedua adalah faktor alam. Pekerjaan tim penyelam mencari black box tidak bisa dilepaskan dari faktor alam, baik di atas atau pun di bawah permukaan laut. Jika alam sedang bersahabat, maka pekerjaan bisa dilakukan dengan lebih mudah. Sebaliknya, jika alam tidak bersahabat, tim penyelam bukan hanya akan terhambat, melainkan tidak dibolehkan untuk menyelam karena berbahaya.

Kondisi di pagi hari penemuan black box itu, kata Mayor Profs De Grit, memang sangat bersahabat. Matahari bersinar cerah, angin berhembus pelan, dan gelombang di atas permukaan laut juga tidak terlalu besar. Cuaca di atas permukaan itu membuat perahu karet yang ditumpangi para penyelam bisa bergerak bebas tanpa hambatan.

Kondisi di bawah air, lanjut Profs, juga tidak kalah bersahabat. Arus bawah laut saat itu sangat pelan, hanya sekitar 0,5 knot sehingga membuat penyelam bisa bergerak dengan bebas. Dalam kondisi buruk, penyelam kerap harus menyusuri lautan dengan kecepatan arus mencapai 4-5 knot. Jarak pandang penyelam saat itu juga mencapai 5 meter.

"Hasilnya, black box pertama berhasil kita angkat pukul 07.12 WIB, black box kedua besoknya pukul 07.13 WIB. Bedanya cuma satu menit," ujar Mayor Profs.

Faktor ketiga dikatakannya, adalah kesolidan tim penyelam. Hal yang paling menentukan, kata Mayor Profs, adalah kesolidan dari tim penyelam itu sendiri. Seluruh tim gabungan yang terdiri dari Komando Pasukan Katak, Marinir, dan Dinas Selam Bawah Air bisa melebur menjadi satu untuk satu tujuan.

Setiap penyelam, lanjut Mayor Profs, sudah bekerja keras untuk melakukan tugas dan bagiannya masing-masing yang amat penting bagi kinerja seluruh tim. Ada tim yang bertugas menyiapkan berbagai peralatan menyelam, melakukan dokumentasi, mengorganisir dan memantau dari atas perahu karet, hingga tim yang turun ke dasar laut untuk melakukan pencarian dan pengangkatan.

"Semuanya sudah bekerja keras. Bahkan yang kerjanya cuma mengisi tabung oksigen juga. Kalau tidak ada yang mengisi tabung, yang lain kan tidak bisa menyelam," ujarnya. (KOMPAS.com/Ihsanuddin)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved