Travelling
Tanpa Pemakaman dan Ternak Domba
KAMPUNG KUTA merupakan satu-satunya dusun di Kabupaten Ciamis yang tidak memiliki pemakaman umum.
Penulis: Andri M Dani | Editor: Hermawan Aksan
KAMPUNG KUTA merupakan satu-satunya dusun di Kabupaten Ciamis yang tidak memiliki pemakaman umum. Bahkan tidak ada satu pun kuburan di kampung yang berada di lembah tebing Cibodas ini. Dan tentunya tidak ada batu nisan di Kampung Kuta.
Bila ada warga Kampung Kuta yang meninggal, dikuburkannnya di pemakaman umum Dusun Cibodas, salah satu dusun yang masih berada di Desa Karangpaningal. Jadi selama Kampung Kuta ada, belum pernah ada warga menggali kubur di Kampung Kuta.
"Jangankan menggali kubur. Menggali tanah untuk fondasi rumah juga tak pernah," kata Karman.
Maklum segala macam bangunan apalagi rumah di Kampung Kuta, semuanya bertipe rumah panggung. Bangunan rumah berada di atas tiang penyangga berupa batu yang rata-rata ketinggiannya 35 cm dari tanah. Tidak ada penggalian tanah untuk pondasi rumah, karena menggali tanah dianggap akan merusak keutuhan struktur tanah. Dengan arsitek rumah panggung yang berbahan baku atap ijuk atau rumbia, dan dinding bilik tanpa unsur tembok, rumah-rumah di Kampung Kuta lebih tahan gempa. Tak ada rumah yang runtuh atau retak-retak ketika gempa besar melanda Ciamis (Jawa Barat) tahun 2009 lalu.
Hewan ternak yang biasa dipelihara warga Kampung Kuta menurut Karman adalah ayam, kampung dan sapi. "Paling banyak memang sapi, di sini sekarang ada 100 ekor yang dipelihara, semuanya sapi lokal. Juga ada kambing. Tapi dari dulu di sini tidak pernah ada domba," jelasnya .Kehidupan sehari-hari warga Kampung Kuta memang bertani. Juga menjadi perajin gula kawung. Tak kurang dari seribu batang pohon aren yang tumbuh sekeliling Kampung Kuta tidak hanya menjadi tameng kampung yang berada di bawah tebing (kuta) tersebut dari ancaman longsor dan kekeringan. Tetapi menjadi sumber kehidupan warga setempat. Setiap hari pohon aren tersebut disadap diambil niranya dan diolah jadi gula aren yang kualitas terjaga. Hampir setiap rumah warga Kampung Kuta sehari-hari membuat gula aren.
Di tengah perkembangan kemoderenan zaman, warga masyarakat adat Kampung Kuta masih tetap bertahan dengan segala tradisi warisan leluhur mereka. Secara rutin mereka selalu menggelar ritual ada tahunan seperti tradisi nyuguh setiap kamis atau senin terakhir menjelang masuknya bulan Maulud, berikut hajat bumi setiap kalimasa kapat dan babarit ketika terjadi bencana alam seperti gempa.
Sampai saat ini, tradisi terus bertahan, hutan larangan (hutan keramat) Leuweung Gede tetap terjaga kelestariannya ada aturan tak tertulis yang tetap dipatuhi yakni segala macam pantang larang yang disebut pamali.
"Tapi entah sampai kapan pamali ini tetap bertahan," tutur Aki Maryono (70) kuncen Kampung Kuta, yang salah seorang anaknya kini tengah menimba ilmu di perguruan tinggi.
Kekhawatiran Aki Maryono ini cukup beralasan mengingat warga Kampung Kuta bisa berinteraksi dengan masyarakat luar tanpa sekat, apalagi sekarang teknologi komunikasi dan transportasi semakin canggih. Warga Kampung Kuta hidup tanpa menutup diri alias tidak ekselusif, tak ada batasan orang luar bertamu ke Kampung Kuta.
Tapi yang kini menjadi pemikiran bagi Aki Maryono, bagaimana segala bentuk pantang larang aturan tak tertulis pamali yang diemban warga kampung adat Kuta dikaji atau diteliti secara ilmiah. Misalnya kenapa ada berbagai pantangan yang harus dipatuhi ketika masuk hutan keramat Leuweung Gede. Selama ini warga adat Kampung Kuta melaksanakan semua pantang larang tersebut sebagai warisan tradisi karuhun /nenek moyang, bukan atas kajian ilmiah.
Ia yakin. Dibalik aturan tak tertulis sebagai bentuk kearifan lokal tersebut ada nilai-nilai yang terkandung yang bisa dikaji secara ilmiah. Misalnya kenapa masuk hutan tidak boleh pakai alas kaki dan segala macamnya.
Termasuk pandangan dalam memanfaatkan tanah yang ada di Kampung Kuta yang tercermin dalam kalimat "legok balongan, lampah sawahan , gawir awian,". Sisi tebing cocoknya ditanami rumpun bambu, bukannya pohon jati atau pohon mahoni. Mungkin karena pohon jati atau mahoni dan pohon lain kalau sudah besar ditebang, dan tidak akan tumbuh lagi, sehingga harus ditanam pohon baru. Beda dengan pohon bamboo, bila ditebang satu pohon masih banyak pohon yang tumbuh di rumpun bamboo yang ditanam di sisi gawir (tebing) tersebut. Jadi bila tebing ditanami rumpun bambu tidak bergitu rentan longsor. Karena akarnya mencengkram dan pohon dirumpunnya selalu tumbuh.
Untuk membuat kolam, legok pilihannya bukan atas gawir. Sementara hamparan lahan yang becek (lampah) cocok untuk sawah.
Juga ada prinsip hidup warga Kampung Kuta dalam menjaga kelestarian hutan lewat peringatan "leuweung ruksak, cai beak, manusa balangsak" menjadi bagian kearifan budaya yang menjadi catatan perjalanan kehidupan masyarakat adat yang kini menjadi bagian tujuan perjalanan wisata budaya dan lingkungan serta penelitian ilmiah. Tak hanya keunikan budaya saja yang menggoda, tetapi kelestarian hutan adatnya juga menjadi tujuan perjalanan. (sta)