Travelling
Pohon Roboh Dibiarkan Lapuk
SATU larangan yang harus dipatuhi saat masuk kawasan hutan keramat Leuweung Gede Kampung Kuta adalah tidak boleh membawa sesuatu dari dalam hutan.
Penulis: Andri M Dani | Editor: Hermawan Aksan
SATU larangan yang harus dipatuhi saat masuk kawasan hutan keramat Leuweung Gede Kampung Kuta adalah tidak boleh membawa sesuatu dari dalam hutan. Jangankan untuk menebang kayu, mengambil ranting kayu kering yang rontok dari pohon yang ada dalam hutan adat Leuweung Gede ini juga dilarang alias tak boleh.
Bahkan pohon kayu yang tumbang. Misalnya karena usia yang sudah tua atau rubuh karena disapu angin puting beliung. Juga tak boleh diambil sama sekali.
"Dibiarkan lapuk begitu saja. Tidak hanya yang ditengah hutan, yang di sisi hutan juga harus dibiarkan lapuk," tutur Karman.
Makanya jangan heran bila menyusuri hutan adat Kampung Kuta ini banyak ditemukan bangkai pohon yang sudah tumbang bergelimpangan dibiarkan lapuk begitu saja, mungkin sudah bertahun-tahun rubuh yang sudah ditumbuhi jamur yang aneh-aneh bentuknya. Atau yang baru rubuh, kelihatan masih sedikit segar batangnya . Ada juga pohon tua mati berdiri karena usia. Bangkainya dibiarkan tegak meski ranting dan bagian atasnya sudah rontok mengering dan lapuk.
"Kadang-kadang kabita juga. Pohon-pohon yang sudah mati, rubuh dibiarkan lapuk begitu saja. Kalau dikumpul-kumpulkan jumlahnya bisa ratusan bahkan ribuan kubik. Coba kalau digunakan untuk bangun rumah atau keperluan lainnya. Tapi mau bagaimana lagi, aturan harus dipatuhi. Pamali katanya," ujar bapak dua anak ini.
Tak hanya pohon, satwa yang ada di dalam hutan yang ditemukan mati juga dibiarkan membusuk begitu saja.
Lazimnya kawasan hutan yang kelestariannya masih terjaga, di hutan larangan Leuweung Gede Kampung Kuta ini ditemukan berbagai jenis pohon dan tanaman plasma nutfah serta satwa. "Binatang yang ada di hutan ini macam-macam ada kera, monyet, lutung, oa, berbagai jenir burung, ular, tupai atau bajing, bahkan babi. Mereka memakan tanaman dan buah tanaman yang ada di hutan ini," jelas Karman.
Di antara berbagai jenis tanaman yang menjadi sumber makanan satwa penghuni hutan Leuweung Gede ini kata Karman adalah pohon mangga tua yang usianya diperkirakan sudah 300 tahun. Pohon mangga tua yang diameternya mencapai 6 meter ini boleh jadi merupakan pohon mangga paling tua di Ciamis. "Kami menyebutnya mangga pari, rasa buahnya tak seperti buah mangga hasil bercocok tanam di kebun," terangnya.
Mangga liar alami yang tumbuh raksasa dihutan Leuweung Gede ini kata Karman rasanya agak masam dan biasanya menjadi sumber makanan bagi monyet, kera, lutung, oa dan bajing (tupai) yang menghuni hutan Kampung Kuta seluas 40 hektare tersebut.
"Saya sendiri tidak hapal pohon-pohon apa saja yang tumbuh dihutan ini. Mungkin perlu ada penelitian," ujar Karman. (sta)