Keracunan di Garut
Warga Melihat Aneh pada Sayurannya
arga yang mengalami gejala keracunan di Desa Tanjungkarya, Kecamatan Samarang, mengaku merasa ada yang janggal dengan rasa salah satu makanan.
Penulis: Muhamad Syarif Abdussalam | Editor: Dedy Herdiana
GARUT, TRIBUN - Warga yang mengalami gejala keracunan di Desa Tanjungkarya, Kecamatan Samarang, mengaku merasa ada yang janggal dengan rasa salah satu makanan pada hidangan hajatan yang dimakannya.
Salah satu korban, Atikah (40), mengatakan makanan yang terasa berbeda dari biasanya adalah opor ayam. Namun, dia baru merasakan mual dua jam setelah makan hidangan tersebut.
"Saya langsung mengalami mual dan pusing. Kemudian muntah. Sampai harus dibawa ke puskesmas," kata Atikah.
Hal serupa dialami Sofariah (10). Dia mengalami mual dan pusing setelah mengonsumsi makanan di hajatan tersebut. Dia pun mendapat pengobatan dan infus.
Kepala Puskesmas Sukakarya, Een Sumiati, mengatakan terdapat lebih dari 30 warga yang mengalami gejala keracunan di Kampung Ciengkol dan Ciseke.
"Semuanya dalam pengawasan tim kami di dua kampung tersebut. Kebanyakan hanya alami pusing dan mengatakan biaa beristirahat di rumah. Kami siap membawa mereka ke puskesmas," katanya.
Een mengatakan telah mengambil sampel makanan yang diduga menyebabkan gejala keracunan tersebut, di antaranya sate ayam dan opor ayam.
Sebelumnya, sebanyak 33 warga Desa Tanjungkarya, Kecamatan Samarang, mengalami gejala keracunan, Kamis (8/1). Mereka mendapat perawatan intensif di Puskesmas Sukakarya.
Kasi Pengamatan Penyakit pada Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, Ade Rohimat, mengatakan mereka mulai berdatangan ke puskesmas pukul 17.30. Mereka mengalami mual, muntah, dan diare.
"Para korban mengalami gejalanya setelah memakan hidangan dari hajatan di Kampung Ciengkol, yakni pihak mempelai perempuan, dan Kampung Ciseke, yakni pihak mempelai pria," kata Ade.
Tuturnya, mereka mengonsumsi makanan tersebut pukul 10.00 dan baru merasakan gejala awalnya pada 13.00. Masa inkubasi dan reaksi gejala ini, katanya, dinilai cukup lama.
Mereka kemudian mendapat perawatan di puskesmas, dibantu bidang pelayanan kesehatan, farmasi, dan pengendalian penyakit pada Dinas Kesehatan Garut.
Pihaknya pun telah berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Garut untuk meminta bantuan velbed. Timnya telah mengambil sampel makanan yang dimakan para korban untuk diuji di laboratorium.
"Tim menginvestigasi ke kampung-kampung, jangan sampai ada korban parah yang dirawat di rumah. Sampai saat ini belum ada yang parah atau sampai dehidrasi," katanya. (Sam)