Cerpen Alizar Tanjung

Kepala Saya Tertinggal di Monas

KEPALA saya tertinggal di Jakarta ketika saya berkunjung ke Monas. Kepala saya terlepas dengan sendirinya dari leher.

KEPALA saya tertinggal di Jakarta ketika saya berkunjung ke Monas. Kepala saya terlepas dengan sendirinya dari leher. Saya sedang asyik menjulurkan kepala di pagar Monas. Maklum orang kampung ke Monas, beraninya melihat-lihat dari balik pagar. Awalnya saya merasakan ada yang ganjil. Kepala saya berputar dengan sendirinya. Kepala itu memutar tiga ratus enam puluh derjat. Bermacam yang kepala saya lihat. Samping kiri dan kanan, sama saja, pohon-pohon yang memagar taman Monas. Juga orang-orang yang sama lugunya, memandang Monas dengan kepala menjulur. Anak-anak menaikkan kakinya ke pagar Monas yang melintang. Seperti melihat capung-capung, anak-anak berteriak. Memandang ke belakang, anak-anak, orang-orang pacaran, para orang tua yang joging pagi. Saya lihat mereka asyik sekali bercengkerama, senyum, tertawa. Saya lihat gigi-gigi mereka yang putih, gusi mereka yang merah daging.

Sebenarnya saya tidak punya tujuan ke Jakarta, maksud saya menara Monas. Hanya saja waktu yang mengizinkan saya. Ya, tepatnya waktu. Sebab, kalau tidak ada waktu yang mengizinkan, tentu saja saya tidak akan sampai di Monas subuh-subuh hari. Sebab waktu yang membuat saya terdampar di stasiun Gambir jam tiga dini hari. Kenapa bisa? Ya, kenapa bisa? Pertanyaan ini juga menghuni kepala saya.

Saya sampai di Gambir, jurusan Purwokerto-Gambir pada jam tiga dini hari. Benar sekali. Jam tiga dini hari saya kebingungan. Sebenarnya menurut jadwal saya harusnya sampai jam empat pagi. Artinya, saya cukup menunggu setengah jam sampai waktu subuh masuk.

Menurut aturannya perjalanan Purwokerto-Gambir delapan jam dengan kereta. Saya berangkat dari stasiun Purwokerto jam sembilan malam lewat seperempat. Sebenarnya saya pun bukan asli Purwokerto. Ke Purwokerto pun hanya persoalan kekasih. Ah, kekasih, kekasih benar-benar membuat saya dimabuk cinta. Tujuan sebenarnya TIM (Taman Ismail Marzuki). Ya, saya diundang dalam penghargaan pemenang cerpen. Pekerjaan saya memang pengarang cerpen. Orang-orang bilang cerpenis. Biar saja orang-orang bilang cerpenis.

Saya sampai di Purwokerto karena tidak ingin waktu saya sia-sia ke Pulau Jawa. Saya naik pesawat dari Bandara BIM Padang, Sumbar. Turun di Cengkareng. Mengambil jurusan mobil ke Purwokerto di Kalideres. Bertemu sang kekasih. Seminggu di Purwokerto, kembali ke Jakarta. Ya, di Jakartalah kejadian aneh itu bermula.

Sialnya saya itu pertama kali ke Jakarta. Maksud saya juga ke Purwokerto. Maklum kota-kota itu terlalu asing bagi saya yang tinggal di pedalaman Sumatera Barat. Dan sampai ke Jakarta-Purwokerto-Jakarta tak lebih sebagai keberanian cari mati. Cari mati! Saya lebih suka menamakannya demikian. Kepergian saya tak lebih sebagai bagian dari nekat saja.

Sampai di Jakarta. Ah, jam tiga dini hari saya berjalan menelusuri ke kanan. Berjalan dengan ransel di punggung. Dua puluh menit saya sampai di Monas. Saya tidak begitu tertarik berdiam, di dini hari yang masih kelam Monas tidak ubahnya hantu jahat. Saya teruskan jalan kaki memutar setengah lingkaran. Saya sampai pada pagar-pagar besi, pagar-pagar besi yang memanjang dan melingkar. Pagar besi yang kekar dan memiliki ketinggian tiga meter.

"Malam, kerja-malam-malam, Pak," kata saya menyapa kepada tiga orang yang sedang memasang keramik tempat duduk di depan pagar yang melingkar. Seorang sedang melicinkan semen dengan kuas. Seorang mengaduk semen. Seorang memasang keramik. "Kenapa pasangnya malam-malam, Pak?"

"Hidup, Nak," kata seorang yang sedang memasang keramik. Saya teruskan berkeliling pagar besi. Hujan rinai, turun. Pada pagar gerbang yang tingginya saya taksir empat meter, sebuah mobil traveling berhenti di depan pagar. Beberapa orang asyik bercengkerama. Dua orang saya lihat merokok sambil bersandar ke dinding gerbang. Saya tidak ingin ikut campur. Saya teruskan berjalan dan pada menjelang gerbang kedua, saya menemukan seorang meringkuk di bawah hujan rinai. Sedikit berteduh dengan kerobeng halte bus. Lelaki kurus itu meringkuk dengan kain sarung menutupi separuh badan. Ah, ini kota besar. Pada gerbang kedua, dua orang kembali saya temukan meringkuk di bawah rinai. Seorang di bawah pos satpam. Seorang merapat ke dinding gerbang masuk. Kota besar memang menyimpan banyak kisah.

Saya buka jam HP, masih jam empat dini hari. Sudah satu jam saya rupanya berjalan.

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved