Cerpen Hermawan Aksan

Dara Plumeria

DIA hadir dengan nama akun yang menyimpan enigma: Dara Plumeria. Aku yakin bukan nama sebenarnya.

DIA hadir dengan nama akun yang menyimpan enigma: Dara Plumeria. Aku yakin bukan nama sebenarnya. Tapi sorot mata yang terpancar dari foto profilnya menyiratkan keselarasan dengan namanya: sebuah lansekap sunyi dan pohon kemboja. Rambutnya yang hitam panjang dan wajahnya secara keseluruhan entah mengapa mengingatkanku pada sosok imajinatif Dewi Setyawati—belahan jiwa Narasoma.

Aku juga tidak yakin apakah wajah di foto profil itu benar-benar wajah Dara—atau siapa pun namanya. Betapa banyak akun media sosial yang memasang foto profil wajah wanita jelita. Di dunia maya, wajah jelita bisa dengan mudah ditemukan. Banyak akun seperti itu yang kemudian dipakai untuk melakukan penipuan.

Suatu hari aku menerima sapaannya di lini masa.

"Hai, salam kenal, Mas. Saya suka baca tulisan-tulisan Mas."

Setidaknya, kata-katanya rapi, bukan model alay umumnya pemilik akun cantik di media sosial. Kesan pertama yang lumayan. Aku pun membalasnya singkat saja: "Salam kenal juga, Dara. Terima kasih tulisanku sudah dibaca."

Selain menjadi editor di sebuah harian, aku menulis esai, cerpen, dan beberapa judul buku. Aku sangsi wanita secantik Dara membaca tulisanku. Oh, bukannya aku berpendapat bahwa orang cantik tidak suka membaca. Aku hanya bicara soal Dara.

Tak lama ia menyapaku lagi: "Saya baca postingan Mas mengenai Angie."

Di titik inilah aku tergoda untuk mengajaknya bicara lewat layanan percakapan.

"Terima kasih, Dara. Itu tulisan lama. Bagaimana pendapatmu mengenai dia?"

"Sebagai perempuan Indonesia, saya malu, Mas. Atau tepatnya prihatin dan cemas. Saya dulu pengagumnya. Dia menjadi inspirasi orang banyak. Cantik, cerdas, dan kariernya dengan cepat menanjak. Seperti meteor. Dan kemudian...."

Halaman
1234
Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved