Cerpen

Imam Ketiga

TAK ada jemaah yang keberatan ketika Sanusi ditunjuk oleh rapat takmir menjadi imam ketiga di Masjid Baitul Hakim.

Maka untuk kali pertama pula Sanusi berkesempatan memimpin salat jemaah karena Kiai Sukri masih dalam proses penyembuhan. Sebagai imam, Sanusi tidak mengecewakan. Bacaan ayatnya presisi dan terdengar merdu di telinga jemaah. Surah-surah panjang mengalun merdu dari bibir Sanusi yang mampu membuat jemaah makin khusyuk salatnya. Ketika Sanusi menjadi imam, telinga para jemaah seperti sedang mendengarkan nyanyian atau dongeng yang dilantunkan dalam bahasa Arab.

Bahkan ketika khatib tamu salat Jumat berhalangan hadir, Sanusilah yang naik ke mimbar dan memberikan khotbah yang bernas dan sarat makna. Jemaah terpukau mendengar khotbah Sanusi yang mudah dicerna dengan ilustrasi-ilustrasi yang begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Khotbah salat Jumat yang kadang terasa monoton menjadi terasa lebih hidup saat dibawakan Sanusi. Kualitas Sanusi sebagai imam utama dan khatib tak ada yang meragukan. Cara pembawaannya yang berbeda dengan Kiai Sukri dan Pak Ridwan memberi nuansa dan warna lain pada Masjid Baitul Hakim.

Tetapi keadaan ini tampaknya tak akan bertahan lama. Selain dengan pulangnya Pak Ridwan, yang secara religi bakal lebih terpandang karena telah menginjakkan kaki di Tanah Suci, kesembuhan Kiai Sukri adalah alasan utama pelengseran kembali Sanusi dari posisi imam. Bagaimanapun juga Kiai Sukri adalah peletak batu pertama pembangunan Masjid Baitul Hakim, sudah barang tentu dia merindui dan dirindukan jemaahnya.

Entah kenapa setelah menjadi imam utama, Sanusi jadi merasa berat untuk melepaskannya. Padahal dahulu sebelum merasakan memimpin para makmum di Masjid Baitul Hakim, dia merasa biasa-biasa saja. Dan Sanusi menyadari, kehadiran Kiai Sukri yang hanya sesekali untuk menjadi imam menerbitkan rasa tidak senang dalam dirinya.

Pernah suatu ketika terjadi peristiwa yang cukup menggores harga diri Sanusi sebagai imam. Saat itu salat Magrib dan seperti biasa jemaah lebih banyak dibanding empat waktu salat lainnya, ikamah sudah dikumandangkan, Sanusi sudah berada di tempat imam dan akan meminta jemaah merapatkan dan meluruskan saf atau barisan salat. Tapi dari barisan belakang tiba-tiba terdengar seorang makmum setengah berteriak, "Kiai Sukri datang."

Lantas barisan itu pun terbelah memberi jalan bagi Kiai Sukri yang dengan perlahan menuju ke saf terdepan dan berdiri tepat di belakang Sanusi yang lantas mempersilakannya menjadi imam. Saat itu Sanusi cukup tahu diri untuk menjadi makmum saja meski tebersit ketidakrelaan dalam dirinya. Sebenarnya Sanusi merasa malu dengan langkah mundur ini. Tapi dia tak kuasa melawan wibawa Kiai Sukri yang sepertinya mendapat dukungan dari para jemaah. Jadilah salat Maghrib itu berjalan sangat lamban dan menyiksa bagi Sanusi. Seperti yang sudah-sudah, ayat-ayat suci Alquran mengalun kurang jelas dari bibir Kiai Sukri. Gigi-giginya yang ompong dan usia tua menjadikan artikulasinya tidak jelas. Seperti yang lalu-lalu pula, menu salat Maghrib dengan imam Kiai Sukri adalah Surah al-Kafirun di rekaat pertama dan Surah al-Ikhlas di rekaat kedua.

Sanusi, yang berdiri tepat di belakang imam, menggerundel dalam hati. Salatnya sama sekali tidak khusyuk. Dia merasa lebih layak menjadi imam dibanding Kiai Sukri, baik dari segi kesempurnaan bacaan maupun gerakan. Memang surah yang dibaca Kiai Sukri lebih pendek tapi perpindahan gerakan salatnya jauh lebih lambat karena faktor fisik sehingga durasi salat menjadi lebih lama. Salat Magrib, yang biasanya hanya lima belas menit ketika diimami Sanusi, kini molor menjadi dua puluh menit ketika dipimpin Kiai Sukri. Barangkali cuma Sanusi yang mempermasalahkan hal ini dalam hati.

Lama-kelamaan rasa tidak rela Sanusi membengkak menjadi ketidakikhlasan ketika Kiai Sukri salat berjamaah di Masjid Baitul Hakim, walaupun itu hanya sesekali terjadi. Karena setiap kali ada Kiai Sukri, berarti dia harus turun takhta menjadi makmum lagi. Sanusi kadung menikmati posisi sebagai imam. Dia merasakan kenyamanan kala gerakannya diikuti seluruh jemaah. Ada kepuasan tersendiri yang susah diceritakan ketika dia menjadi seorang pimpinan.

Menjelang kedatangan Pak Ridwan dari Tanah Suci, Sanusi semakin gelisah. Dia ingin lebih lama menjadi imam. Dan Sanusi menemukan momentum yang tepat untuk melengserkan Kiai Sukri dari posisi imam utama. Momentum itu datang saat salat Jumat tatkala Sanusi menjadi khatib mewakili takmir masjid sekaligus Jumat terakhirnya sebelum Pak Ridwan kembali. Di tengah jemaah yang membeludak, Sanusi mengambil topik khotbah kriteria menjadi imam salat berjemaah yang ideal. Pada khotbah itu Sanusi memberikan penekanan yang berlebihan pada kriteria kefasihan membaca Alquran. Topik itu memang sengaja dia pilih untuk menyerang Kiai Sukri. Saat itu kata-katanya serupa anak panah menghujani Kiai Sukri yang duduk tawaduk mendengarkan khotbah tepat di bawah mimbarnya. Tapi kiai sepuh itu tetap tenang. Tidak ada perubahan berarti pada raut dan gestur tubuhnya.

Khotbah yang berapi-api itu akhirnya selesai setelah dua puluh menit. Tidak seperti biasa, Sanusi memimpin sendiri salat Jumat itu. Biasanya, dia menawari Kiai Sukri untuk menjadi imam. Tapi kali ini Sanusi langsung meminta jemaah merapatkan dan merapikan saf tanpa memandang wajah Kiai Sukri. Salat Jumat pun dimulai. Tapi sesuatu yang tak biasa terjadi di rekaat kedua. Sanusi, yang seorang hafiz itu, mendadak lupa bacaan Surah al-Ghasiyah. Surah yang telah ratusan kali lancar dibacanya itu terputus di tengah jalan. Sanusi mengulanginya hingga tiga kali dan jemaah juga berusaha membantunya dari belakang, tapi tetap saja Sanusi tak mampu merampungkan surah itu. Akhirnya setelah usaha mengingatnya gagal, Sanusi mengganti bacaan surahnya dengan Surat al-Ikhlas.

Halaman
123
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved