Cerpen

Imam Ketiga

TAK ada jemaah yang keberatan ketika Sanusi ditunjuk oleh rapat takmir menjadi imam ketiga di Masjid Baitul Hakim.

Oleh Gunawan Tri Atmodjo

TAK ada jemaah yang keberatan ketika Sanusi ditunjuk oleh rapat takmir menjadi imam ketiga di Masjid Baitul Hakim. Meski masih muda, Sanusi memenuhi syarat untuk menjadi seorang imam. Selain lulusan pondok pesantren yang cukup terkenal di negeri ini, Sanusi juga adalah seorang hafiz alias penghafal Alquran. Jika bukan karena faktor usia atau kematangan pengalaman hidup, bisa saja Sanusi menjadi imam utama di Masjid Baitul Hakim.

Dari sisi keduniawian, menjadi imam di masjid sebenarnya tidak menjanjikan keuntungan materi apa-apa selain mungkin gengsi atau prestise, yang dikategorikan cela dalam laku agama. Imam di masjid tidak mendapat gaji, tapi sangat disegani dan dihormati. Dan soal penghormatan ini, Sanusi sudah mendapatkannya. Sanusi, yang sehari-hari bekerja sebagai guru agama honorer di sebuah sekolah dasar, berkecukupan hormat. Tapi tetap saja penunjukannya sebagai imam ketiga membawa kebahagiaan tersendiri bagi Sanusi meski, di saat longgar, jemaah yang umurnya sepantaran Sanusi sering mengeluarkan banyolan mengenai penunjukannya sebagi imam ketiga ini dalam ujud tebak-tebakan yang agak keterlaluan, "Apakah persamaan antara imam ketiga dan kiper ketiga?"

"Keduanya sama-sama cadangan dan jarang diturunkan."

Lalu semua yang mendengar itu akan tergelak, termasuk Sanusi. Banyolan agak menyakitkan itu seakan tak melukai hati Sanusi saat itu karena memang begitulah kenyataannya. Sanusi tak pernah berkesempatan memimpin salat berjemaah meski bacaan Alqurannya paling fasih.

Imam pertama di Masjid Baitul Hakim adalah Kiai Sukri, yang meski sudah sepuh, bergigi ompong, dan bersuara cadel, masih dipercaya sebagai imam utama. Kiai Sukri memang memiliki aura kepemimpinan yang kuat. Hal ini senantiasa terpancar lewat kehangatan yang keluar dari dirinya. Lagi pula, Masjid Baitul Hakim adalah hibah dari keluarga Kiai Sukri sehingga sempurnalah penghormatan para jemaah kepada Kiai Sukri.

Imam kedua di masjid itu adalah Pak Ridwan. Pak Ridwan adalah lelaki cekatan yang dipercaya jemaah menjadi pengelola keuangan sekaligus penghubung kepentingan masjid dengan dunia di luar masjid. Hafalan surah Pak Ridwan lebih banyak dan bacaannya lebih fasih dibanding Kiai Sukri, meski masih di bawah kemampuan Sanusi. Pak Ridwan lebih diutamakan untuk urusan "menghidupkan" masjid. Dia menggalang para pemuda masjid dan menyusun berbagai program keagamaan yang interaktif.

Jadi ketika Kiai Sukri yang telah sakit-sakitan itu absen sebagai imam, Pak Ridwanlah yang menggantikannya. Kerajinan Pak Ridwan datang ke masjid tak perlu diragukan lagi. Dia datang sebelum azan dikumandangkan, membuka setiap pintu dan jendela lalu ikut membersihkan masjid bersama marbut atau penjaga masjid.

Hampir pasti tak ada kesempatan bagi Sanusi untuk menjadi imam meski kemampuan membaca Alquran dan pengetahuan agamanya lebih tinggi dari kedua imam tersebut. Tapi hal tersebut tidak menjadi masalah bagi Sanusi. Walau sejauh ini dia hanya makmum seperti jemaah masjid lainnya, dia senantiasa siap setiap saat menjadi imam. Sanusi akan memberikan saran terbaik dan menyumbangkan tenaga kapan pun Masjid Baitul Hakim memerlukannya.

Tapi dua bulan setelah rapat itu, tatanan imam di Masjid Baitul Hakim berubah. Sakit Kiai Sukri kian parah sehingga dia jarang lagi ke masjid. Jangankan untuk pergi ke masjid, untuk berdiri saja Kiai Sukri memerlukan bantuan orang lain. Kejadian yang kedua adalah Pak Ridwan akan melakukan umrah dalam waktu dekat. Anak Pak Ridwan yang sukses bekerja di luar kota menghadiahi ayahnya ziarah religi ke Tanah Suci. Tentu saja Pak Ridwan menerima hadiah ini dengan bahagia dan dia mengumumkannya pada jemaah seusai salat Isya sekalian berpamitan. Sebelum berangkat, Pak Ridwan menyerahkan segala urusan masjid kepada Sanusi selagi dia menunaikan umrah dan Sanusi menyanggupinya.

Halaman
123
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved