Longsor di Garut
Warga Talegong Masih Terhadang Longsor
Camat Talegong, Nurodin, mengatakan kendaraan alat berat milik Pemprov Jabar baru menyingkirkan material longsor di jalan penghubung Bandung-Garut.
Penulis: Muhamad Syarif Abdussalam | Editor: Dedy Herdiana
Laporan Wartawan Tribun Jabar, M Syarif Abdussalam
GARUT, TRIBUN - Jalur Bandung-Garut yang sempat terputus akibat longsor di Kampung Datar Beledug, Desa Sukamulya, Kecamatan Talegong, dapat dilalui kendaraan secara normal, Kamis (18/12). Sementara itu di titik lainnya, warga di lima desa di Talegong masih kesulitan bertransportasi akibat jalan desanya masih tertimbun longsor
Camat Talegong, Nurodin, mengatakan kendaraan alat berat milik Pemprov Jabar telah menyingkirkan material longsor di jalan penghubung Bandung-Garut tersebut. Sedangkan, kendaraan alat berat baru sampai di titik longsor di Kampung Ciwaru, Desa Sukamulya, menjelang petang.
Titik longsor tersebut terletak di jalan yang menghubungkan pusat kecamatan dengan Desa Mekarmulya, Mekarwangi, Selaawi, Mekarmukti, dan Sukamulya. Jalan tersebut merupakan satu-satunya akses bagi warga di lima desa tersebut.
"Siang harinya hujan deras, pembersihan longsoran dihentikan. Alat berat baru datang sore sekali. Kalau hujan, tidak akan saya izinkan beroperasi, takut ada longsor susulan dan malah ada korban nantinya," kata Nurodin, Kamis (18/12).
Longsor di dua titik di kampung tersebut, katanya, membuat jalan desa sepanjang sekitar 200 meter terdampak longsor. Kendaraan roda empat dari arah pusat Talegong atau sebaliknya, terpaksa berhenti di Kampung Ciwaru karena tidak dapat melewati jalan yang tertimbun longsor.
"Bahan pangan dan kebutuhan pokok digotong dengan cara berjalan di atas lumpur, sepanjang sekitar 200 meter. Di seberangnya, baru naik kendaraan jemputan ke tempat tujuan," kata Nurodin.
Anak-anak sekolah, tuturnya, harus ikut melewati kawasan longsor tersebut dengan berjalan kaki di atas lumpur untuk pergi atau pulang dari sekolah. Hal serupa dilakukan warga lainnya yang hendak bepergian dari lima desa yang nyaris terisolasi tersebut.
Pelayanan kesehatan bagi warga di lima desa pun dipusatkan di sebuah puskesmas pembantu. Dokter dan tenaga medis pun harus ikut melewati longsoran tersebut dengan berjalan kaki untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi warga di puskesmas pembantu. (Sam)