Cerpen Richa Miskiyya

Dongeng di Atas Sampan

ANAK-anak kampung di ujung muara itu berebutan keluar dari langgar. Mereka dengan tergesa memilah sandal yang sering tertukar karena redupnya cahaya.

ANAK-anak kampung di ujung muara itu berebutan keluar dari langgar. Mereka dengan tergesa memilah sandal yang sering tertukar karena redupnya cahaya. Subuh baru saja selesai, sedangkan matahari pagi belumlah terbit sempurna.

Mereka bergegas berjalan melewati jalan setapak di antara tambak-tambak ikan. Anak-anak lelaki sudah menanggalkan sarungnya dan melingkarkannya ke leher, sedangkan anak-anak perempuan melepas bawahan mukena dan menyampirkannya di bahu. Mereka berlomba, siapa paling cepat sampai di rumah dan kemudian berjanji akan bertemu di atas sampan.

Salah satu dari mereka bernama Rodim, anak lelaki bertubuh kurus dengan bekas luka di dahinya. Sesampainya di rumah, segera disimpannya sarung dan kupluknya, kemudian ia mandi secepat mungkin.

Tubuh Rodim menggigil ketika keluar dari kamar mandi, atau lebih tepatnya bilik kecil di belakang rumahnya tempat padasan dari lempung yang menampung air berada. Saat masuk kembali ke rumah, Rodim mencium bau wangi dari tungku dapur. Nyai Mirsah, neneknya, tengah menanak nasi loyang, nasi dari aking yang ditanak kembali, dan di atasnya ditaburi parutan kelapa. Nasi loyang yang nikmat dimakan ketika hangat, ditambah sambal cabai hijau, daun lembayung, dan lauk ikan asin.  

Tak terasa sudah hampir sembilan tahun Nyai Mirsah hidup bersama Rodim. Itu berarti sudah hampir sembilan tahun pula anaknya meninggal selepas melahirkan Rodim, sedangkan menantunya pergi merantau ke pulau seberang tapi tak pernah ada kabar. Nyai Mirsah tak lagi berharap menantunya akan kembali membawa sekarung uang. Ia sudah pasrah seandainya bapak Rodim itu meninggal di tengah lautan ketika menyeberang dengan kapal. Selama ini Nyai Mirsah selalu berusaha sekuat mungkin untuk mencukupi kebutuhan Rodim dari hasil sepetak tambak peninggalan suaminya yang hasilnya tak seberapa.

Rumah Rodim hampir serupa dengan rumah-rumah tetangganya di perkampungan muara. Tak ada halaman, karena di depan rumah adalah petak-petak tambak yang dipisahkan jalan setapak. Di belakang rumah adalah sungai kecil selebar tiga hingga empat meter yang diteduhi pepohonan bakau di kiri dan kanannya.  

Rodim sudah menyelesaikan makannya. Segera dipakainya sepatu yang sudah menipis bagian solnya, kemudian ia duduk di pintu belakang rumah, menanti sampan Wak Kosim tiba.

Jarak yang cukup jauh dengan sekolah di desa kecamatan mengharuskan Rodim dan kawan-kawannya melewati sungai kecil dan tepian laut Moro Demak di pesisir utara Jawa dengan sampan.

Tak berapa lama, yang ditunggunya datang juga. Di sampan Wak Kosim sudah duduk manis lima kawannya. Wak Kosim dengan sigap menegakkan galah panjang untuk merapatkan sampannya ke bibir tepian. Rodim pun menjejakkan kakinya melewati tangga bambu dan meniti dermaga kecil menuju sampan Wak Kosim.

Rodim duduk di antara kawan-kawannya, sedang Wak Kosim mulai mendayung sampannya, pelan tapi pasti menyusuri perairan bakau yang rindang. Terkadang mereka harus menundukkan kepala agar tidak terantuk papan kayu ketika lewat di bawah jembatan yang menghubungkan kampung Rodim dan kampung tetangga.

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved