Gadis Cianjur Hilang di Yordania
Sempat Terendus di Suriah
Berbekal tekad membahagiakan orangtua, Yulanisah berangkat ke Yordania. Ketika itu usianya masih 15 tahun. Kini 7 tahun berlalu, ia tak tentu rimbanya
Penulis: cis | Editor: Arief Permadi
CIANJUR,TRIBUN - Enok (44), warga RT 1/2 Desa Ramasari, Kecamatan Haurwangi, Kabupaten Cianjur, tak mampu menahan kebahagiaannya ketika menyambangi kediaman ketua RT 1, Irma Purnama (29), Jumat (28/11). Ditemani anak bungsunya, Reza Hermawan (4), ia terus mengucapkan tahmid. Matanya berbinar seolah akan ada hal kabar baik.
Sekali-sekali ia menyebut nama Ayank. Ayank adalah panggilan sayang Yulanisah, anak kedua Enok dengan Suherman (62) yang hilang saat menjadi tenaga kerja wanita (TKW) di Yordania.
"Setiap kali saya selalu berdoa dan berharap Ayank pulang. Kalau ada pesawat terbang yang melintas, atau ada orang yang datang mencari rumah, saya berpikir itu adalah Ayank," ujar Enok.
Rumah Enok, hanya berjarak tiga rumah dari kediaman Irma. Lokasinya berada tak begitu jauh dari jalan desa yang berhubungan langsung dengan Jalan Raya Bandung, Kecamatan Haurwangi. Di rumah sederhana berukuran sekitar 3x8 meter inilah Enok, Reza, Suherman, dan anak keempatnya, Mutiasari (10), tinggal sejak 2012. Rumah itu mereka sewa Rp 3 juta setahun.
Sambil menatap sendu, Enok pun menunjukkan foto Yulanisah sebelum merantau ke Yordania. Dalam ijazahnya, Yulanisah tercatat kelahiran 24 Desember 1993. Jika masih hidup, sebentar lagi ia berulang tahun.
"Sudah hampir lima tahun ini kami tidak lagi mendapatkan kabar dari Ayank. Upaya untuk mengetahui keberadaannya terus kami lakukan, tapi sampai sekarang tidak jelas di mana anak saya ini," ujar Enok.
Enok bercerita, Yulanisah terpikat untuk menjadi TKI setelah seorang petugas lapangan datang ke rumah mereka. Petugas lapangan yang mengaku dari perusahaan jasa tenaga kerja Indonesia (PJTKI) di daerah Jakarta itu, ujarnya, menawari anaknya pekerjaan di luar negeri. Karena ketika itu, Yulanisah memang sangat ingin membanggakan kedua orangtuanya, Yulanisah pun tak membuang kesempatan. Apalagi, banyak tetangga teman- teman anaknya berhasil setelah menjadi TKI di luar negeri.
"Dijanjikan gaji Rp 1,5 juta per bulan, dan katanya bakal enak Waktu itu perekrutan juga tidak membayar, hanya membuat KTP, KK, dan persyaratan lainnya. Memang Ayank masih belum cukup umur, tapi dibikinkan KTP," ujar Enok.
Yulanisah berangkat ke Yordania, Kamis 13 Februari 2008 setelah menjalani berbagai proses untuk menjadi seorang TKI. Saat itu sebenarnya, usia Yulanisah baru 15 tahun.
Hingga saat itu, kata Enok, tak ada kekhawatiran dari keluarga terhadap keadaan anaknya. Apalagi, begitu sampai di Yordania, Yulanisah langsung menelepon dan memberi kabar.
"Selama dua tahun, kami masih berkomunikasi dengan Ayank sebanyak lima melalui sambungan telepon. Namun setiap berkomunikasi ada kejanggalan yang terdengar dari telepon. Ayank selalu diam ketika dipanggil. Ayank juga banyak menangis ketika berbicara di telepon, tapi dia tidak bilang apa yang terjadi dengannya di sana," ujar Enok seraya menyebut Ayank pun belum pernah mengirimkan wesel kepada keluarga selama bekerja menjadi TKI.
Komunikasi Yulanisah dan keluarga di Cianjur benar-benar putus pada penghujung 2009. Namun, pada komunikasi terakhir, Yulanisah sempat meminta sejumlah uang. Katanya, uang itu akan ia gunakan untuk pulang ke Indonesia.
"Ayank minta uang untuk pulang sebesar Rp 10 juta, tapi saat dimintai nomor rekening, ia menjawab. Setelah itu sampai sekarang tidak ada kabar lagi. Kami tidak tahu alamat tempat dia bekerja. Cuma terakhir kabar yang kami dapat dari Ayank, ternyata dia ada di Suriah," ujar Enok.
Setahun tak mendapatkan kabar, Enok pun mulai gelisah. Apalagi kala itu di Suriah, perang tengah berkecamuk. Ia dan suaminya pun mencoba mencaritahu ke petugas lapangan yang dulu merekrut anak mereka. Kebetulan petugas lapangan itu masih warga di Kabupaten Cianjur.
"Namun hingga 2011, tidak ada jawaban yang pasti dari perekrut itu. Kami hanya disuruh sabar. Sampai akhirnya kami mendatangi perusahaan yang katanya merekrut Ayank. Ternyata perusahaan itu bukan yang memberangkatkan Ayank meski datanya anak saya ada di perusahaan itu," ujar Enok.
Enok mengaku, pihak keluarga tidak memiliki fotokopian dokumen apa pun terkait keberangkatan anaknya. Ia hanya tahu, anaknya berangkat ke Yordania pada 2008 sebagai pekerja rumah tangga. (cis)