Cerpen Toni Lesmana

Kisah Lelaki Mulut Gang

HUJAN baru saja reda. Gang yang tadinya sunyi. Mulai gaduh. Para pejalan dan pengendara motor. Genangan air muncrat. Aku masih berdiri di mulut gang.

"Aku mencintaimu dan benar-benar mencintaimu, ponimu yang berayun dan rok minimu yang semakin pendek dan ketat, aku mencintaimu setiap senja, dan gila sepanjang malam. Namun aku tak tahu bagaimana memeluk cahaya dalam tubuhmu, cahaya yang menyinari gang setiap senja, menyinari gang dalam tubuhku sepanjang malam. Aku mencintaimu dan benar-benar mencintaimu, mencintai gang ini, mencintai gang dalam dirimu."

Lama sekali aku berjalan, terhuyung, terjatuh, bergulingan, merayap. Lama sekali aku berpegangan pada huruf-huruf yang memanjang lurus sepanjang tembok gang. Kalimat yang penuh coretan. Setiap malam aku selalu mencoretnya dan mengganti dengan kata yang baru, jika kurasa tidak pas. Begitu setiap malam, sambil mengingatmu.

Sampai di ujung kalimat. Tepat di bawah sebuah jendela. Tersembunyi pada rerimbun pohon yang merambat. Inilah kamarmu. Pada rerimbun pohon itu aku telah menyembunyikan semacam pegangan untuk dapat merayap, mendaki, dan sampai di jendela. Seperti pemanjat dinding. Lumayan tinggi.

Mendakilah aku di bawah bulan. Tentu di angkasa sana ada juga yang mendaki dengan tubuh penuh luka. Aku yakin. Seorang yang jatuh cinta akan selalu mendaki dengan tubuh penuh luka.

Semut dari rerimbun menyerbu tubuhku. Aku merayap seperti cecak. Susah payah memanjat. Memanjat tembok yang basah. Rerimbun pohonan sedikit menyembunyikan diriku dari cahaya lampu.

Sampai di jendela. Tubuhku gemetar, lebih gemetar lagi jariku yang masuk ke lubang angin dan pelan menggeser kain gorden jendela. Aku sudah sangat berpengalaman dalam kondisi biasa, tapi luka sekujur tubuh dan kecemasan dalam kepala membuatku begitu gugup. Sedikit-sedikit.

Celaka. Kau ternyata sama-sama telanjang dan penuh luka. Terbaring di ranjang. Bergulingan. Tubuhmu yang putih kini tak seluruhnya putih. Aku semakin menempel ke tembok dan merasakan gejolak yang tumbuh dalam tubuh. Seperti gelombang yang menghapus seluruh luka. Tubuhku bergetar dan diam-diam menyetubuhi tembok.

"Memuaskan, bukan?" tiba-tiba muncul suara orang yang riang bercakap dari pintu kontrakanmu.

"Ya. Gang yang sangat liar!" timpal yang lain dengan suara tawa penuh kemenangan.

Jahanam. Dua orang yang tadi. Dua orang yang hendak melenyapkan gang. Melenyapkan kisah cintaku.

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved