Cerpen Toni Lesmana

Kisah Lelaki Mulut Gang

HUJAN baru saja reda. Gang yang tadinya sunyi. Mulai gaduh. Para pejalan dan pengendara motor. Genangan air muncrat. Aku masih berdiri di mulut gang.

Malam kian meninggi setinggi bangunan di seberang jalan, setinggi bangunan dalam kepalaku. Gang mulai sepi. Hanya beberapa yang masih berjalan melintas. Terburu-buru. Mal sudah tutup. Namun para pekerja pada bangunan yang belum jadi di sampingnya itu, masih saja terus gaduh dan penuh percikan. Aku membayangkan jika saja ada yang jatuh dari ketinggian itu, pastinya tak akan ada yang tahu. Mereka bekerja seperti Sangkuriang. Seperti cinta. Ya, jika saja ada yang jatuh, tak ada yang tahu. Seperti aku yang jatuh cinta padamu. Jatuh cinta padamu. Dan tak ada yang tahu.

Beberapa anak muda berjalan sempoyongan. Berteriak pada siapa saja. Tertawa. Tiba-tiba seseorang menangkap tubuhku. Menggeledah seluruh tubuhku. Memukuli dan menelanjangi. Setelah itu mereka pergi sambil tetap tertawa-tawa. Berteriak-teriak.

Aku bugil dan biru-biru. Memar sekujur tubuh.

Lagi-lagi aku menatap langit yang mulai menetaskan bintang. Kubayangkan seseorang yang bugil, memar dan biru-biru di angkasa sana. Kesepian dan jatuh cinta. Jatuh cinta dan sunyi. Seperti aku. Seperti aku. Aku pikir pasti ada yang sepertiku. Berdiri di sebuah mulut gang, tanpa pakaian, luka di sekujur tubuh. Dan aku semakin mencintaimu. Inilah aku, inilah aku, bisikku pada langit. Pada gang.

Tubuhku dipenuhi luka namun pikiranku semakin gemerlap oleh ingatan tentangmu.

Tiang listrik tak lagi berbisik-bisik. Dua orang lelaki tua perlente turun dari sebuah mobil. Lama memandang yang gaduh dan memercik di seberang jalan. Kemudian hampir bersamaan berbalik memasuki gang.

"Nikmatilah gang ini, sebelum kita lenyapkan demi mal yang lainnya," ucap seorang yang melempar rokok tepat ke tubuhku.

"Ha-ha-ha...! Masih banyak gang yang lain, yang basah dan pintar mendesah," jawab temannya sambil berjalan dengan terburu seperti hendak melihat kebakaran.

Celaka. Gang ini akan segera binasa. Kisah cintaku akan ikut binasa. Luka yang tadi hanya menumpuk di tubuh kini merayap ke dalam dada dan kepala. Aku merangkak. Berusaha memasuki gang. Ingatan tentangmu adalah tenaga bagiku untuk berdiri tertatih dan terhuyung memasuki gang. Tanganku berpegangan pada tembok gang. Seandainya kau peka. Ada surat panjang yang kutulis di tembok ini. Untukmu. Setiap malam aku menulisnya. Memanjang hingga ke tembok gang depan kontrakanmu.

Kini aku seakan berpegangan pada huruf demi huruf yang kutulis untukmu.

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved