Cerpen Toni Lesmana

Kisah Lelaki Mulut Gang

HUJAN baru saja reda. Gang yang tadinya sunyi. Mulai gaduh. Para pejalan dan pengendara motor. Genangan air muncrat. Aku masih berdiri di mulut gang.

HUJAN baru saja reda. Gang yang tadinya sunyi. Mulai gaduh. Para pejalan dan pengendara motor. Genangan air muncrat. Aku masih berdiri di mulut gang. Kuyup. Di samping tiang listrik. Sepanjang hujan senja ini, aku bercakap dengan tiang listrik. Kadang saling memeluk jika dingin hampir gigil.

Senja ini kau tak datang dan pikiranku menjadi sangat sibuk menerka-nerka. Padahal biasanya kau selalu tepat waktu, berjalan sepanjang gang dengan rambut basah sisa keramas dan wangi yang khas. Kau selalu mengingatkanku pada ibuku. Seandainya ibuku tinggal di kota juga, aku yakin ia akan bekerja di mal dan berpakaian sepertimu. Rambutnya akan merah pula seperti rambutmu. Juga roknya akan semini rokmu.

Barangkali sakit, begitu bisik hujan berulang-ulang menggedor kepalaku. Tidak. Kau tak boleh sakit. Itulah sebabnya aku bertahan berdiri di bawah hujan, agar sakit itu hinggap di tubuhku dan meninggalkan tubuhmu. Aku percaya bahwa sakit seseorang dapat digantikan oleh orang lain. Aku tahu tugasku di dunia ini adalah untuk sakit. Sedang tugasmu di dunia adalah untuk cantik.

Barangkali sedang bercinta, begitu ucap tiang listrik yang sedang kupeluk. Tiang listrik memang tak tahu terima kasih. Aku melepaskan pelukan dan memukulnya berkali-kali, seperti hujan ke kepalaku. Rasakan. Kau tak boleh bercinta. Tidak. Ia hanya boleh cantik. Tak lebih dari itu. Namun tiang listrik benar-benar tak tahu terima kasih. Semakin keras kupukul, semakin nyaring ucapannya. Semakin nyaring, semakin sakit pula hati ini.

Sekarang hujan sudah reda. Dan senja. Senja hanya bias yang sebentar lagi lenyap. Kupandangi langit. Apakah di sana juga ada yang berdiri menanti seseorang. Apakah ada gang di atas sana. Gang yang setiap hari dilalui gadis cantik. Dan di mulut gang ada seseorang yang setia seperti aku. Seandainya ada, aku ingin berkenalan dengannya. Mungkin kisahnya tak jauh beda dari kisahku.

Bidadari, kau, benar-benar tak nampak. Malam menyalakan lampu gang. Semakin banyak orang hilir-mudik. Kau lenyap begitu saja. Aku tahu kamar kontrakanmu hanya berjarak 20 meter ke dalam gang. Cat hijau dengan kayu jendela berwarna cokelat. Di dalam kamarmu dindingnya berwarna biru muda dengan banyak poster yang tertempel. Kau sering tertidur dengan piyama berwarna putih, seputih kulitmu. Kau akan tidur jam satu malam dan bangun sebelum adan subuh. Duduk di hadapan kaca. Menangis dan tidur lagi.

Mengingatmu ternyata begitu menikam. Aku memaki tiang listrik tapi tak meninggalkannya. Aku mengutuk malam tapi tak dapat menyingkirkannya. Senja pertama tanpa senyum dan harum tubuhmu. Biasanya seusai menikmati senyum dan harum tubuhmu. Aku akan merasakan betapa ringannya hidup ini. Aku akan berjalan mengelilingi kota. Ramah kepada setiap orang yang kujumpai. Begitulah sampai pagi hari. Segar bugar. Tak ada kantuk jika senja kuteguk dengan dirimu di dalamnya.

Kali ini aku hanya berdiri. Terus saja berdiri di mulut gang. Ingatan-ingatan semakin menyiksa. Mal di seberang jalan sangat benderang, sedang pikiranku begitu gelap. Di samping mal itu nampak sedang dibangun pula bangunan tinggi. Lebih besar dan lebih tinggi. Seperti untuk mal lagi, atau hotel atau tempat parkir. Besar menjulang. Seperti mahkota bagi rumah-rumah kumuh di sekitarnya. Rumah-rumah yang sebentar juga akan segera lenyap oleh kepakan sayap gedung itu. Lampu-lampu menerangi para pekerja. Percikan api di ketinggian. Lengan alat-alat berat terus menjulur mengangkat tiang-tiang yang besar dan berat.

Aku merasa ada yang sedang bekerja pula dalam kepalaku. Begitu gaduh. Penuh percikan api. Membangun ingatan demi ingatan. Cara langkahmu, binar matamu, gerak rambutmu, merah pipimu, ujung lidah dan bibirmu, bedak yang tercecer di lehermu, sepasang buah dada dalam balutan ketat seragam kerjamu, dan tentu saja rok mini serta panjang kakimu. Suara langkahmu. Satu per satu bersatu kemudian menjulang dalam kepalaku, menyingkirkan pikiran-pikiran yang berkabut. Berat. Aku bersandar di tiang listrik menatap jauh ke dalam gang. Gang tanpa dirimu.

Barangkali benar bisik hujan, barangkali benar ucap tiang listrik. Aku tahu hujan dan tiang listrik adalah bagian dari diriku. Ucapan mereka adalah ucapan diriku sendiri. Kecemasan yang muncul disebabkan kehilangan dirimu.

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved