Focus Group Discussion

PP Harian Tribun Jabar Bicara Soal Ahmadiyah

Pitoyo mengatakan perbedaan tafsir terhadap sebuah ajaran tidak seharusnya dihadapi dengan aksi kekerasan.

PP Harian Tribun Jabar Bicara Soal Ahmadiyah
TRIBUN JOGJA
Pimpinan Perusahaan Harian Umum Tribun Jabar, H Pitoyo (kanan) saat menjadi pembicara dalam Focus Group Discussion dengan tema “Jemaat Ahmadiyah Dalam Perspektif Aqidah, Syariah, dan Kebangsaan” yang diselenggarakan oleh Pusat Kajian Islam Asia Tenggara /Institute Of Southeast Asian Islam (ISAIs) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Kamis (27/11). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Hamim Thohari

TRIBUNBUNJOGJA.COM, YOGYA - Penafsiran Jemaat Ahmadiyah yang menafsirkan tentang keberadaan nabi setelah nabi Muhammad, dan penafiran tersebut adalah bertentangan dengan penafsiran dari kaum Muslim Sibi yang merupakan mayoritas muslim di Indonesia, menyebabkan Jemaat Ahamadiyah yang berada di Indonesia di cap sesat. Dan hal tersebut dipertegas dengan dikeluarkannya SKB tiga menteri yang mempertegas hal tersebut.

Peneliti Ahmadiyah yang sekaligus Pimpinan Perusahaan Harian Tribun Jabar, Pitoyo mengatakan perbedaan tafsir terhadap sebuah ajaran tidak seharusnya dihadapi dengan aksi kekerasan. Bahkan Alquran memberikan keleluasan orang untuk berpikir.

“Perbedaan tafsir hendaknya diselesaikan dalam ranah ilmiah dan kajian, sehingga tidak perlu mempertemukan perbedaan tafsir tersebut ke konflik horisontal. Dan sebaiknya pemerintah tidak perlu mencampuri terlalu jauh penafsiran seseorang terhadap keyakinan,” ungkap Pitoyo saat menjadi salah satu pembicara dalam Focus Group Discussion dengan tema “Jemaat Ahmadiyah Dalam Perspektif Aqidah, Syariah, dan Kebangsaan” yang diselenggarakan oleh Pusat Kajian Islam Asia Tenggara /Institute Of Southeast Asian Islam (ISAIs) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Kamis (27/11).

Berbicara dalam konteks peneliti, Pitoyo mengatakan bahwa Jemaat Ahmadiyah mempercayai bahwa Allah tidak berhenti menurunkan wahyu pada Nabi Muhammad. Dan mereka meyakini bahwa Mirzam Gulam Ahmad adalah salah satu orang yang menerima wahyu setelah masa Nabi Muhammad.

Berdasarkan penfsiran tersebut, maka Jemaat Ahmadiyah mempercayai bahwa Mirza Gulam Ahmad adalah perwujudan nabi baru yang menerima wahyu tetapi tidak membawa syariat baru. “Hal tersebut sama dengan keberadaan Nabi Isa, dimana Nabi Isa tidak menerima wahyu yang mengajarkan syariat dalam bentuk kitab suci, tetapi Injil adalah penyempurnaan Taurat,” ungkap Pitoyo.

Ditambahkan Pitoyo, Keyakinan Jemaat Ahmadiyah yang meyakini bahwa Mirza Gulam Ahmad adalah seorang Nabi tak lepas dari perbedaan konstruksi makna wafatnya Isa Almasih dan turunya kembali Isa Almasih dan Imam Mahdi.

Menurutnya, Isa Almasih dan Imam Mahdi telah turun di dunia dalam wujud Mirza Gulam Ahmad. Dan hal tersebut berbeda dengan konstruksi makna dari golongan Suni dan Syiah. Dua golongan tersebut meyakini bahwa Isa belum meninggal dan akan turun di akhir zaman bersama dengan Imam Mahdi. (*)

Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved