Perdagangan Manusia

Tukang Kebun Hotel di Mataram 'Nyambi' Jadi Mucikari, Masuk Bui

KEDUANYA terbukti terlibat melakukan praktik perdagangan manusia. 

Tukang Kebun Hotel di Mataram 'Nyambi' Jadi Mucikari, Masuk Bui
DOKUMENTASI TRIBUN BALI
Illustrasi. Dua perempuan ABG (korban perdagangan manusia) yang diduga akan dijual. 

MATARAM, TRIBUN - Heri Setiawan (25) dan Sukron (35) divonis tiga tahun penjara. Tukang kebun dan tukang cat Hotel Tamarin, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB) ini terbukti terlibat melakukan praktik perdagangan manusia. 

"Klien saya divonis tiga tahun dua bulan," kata kuasa hukum terdakwa, Denny Nur Indra, Senin (3/11/2014). 

Dua pemuda asal Gunung Sari tersebut divonis dalam sidang putusan di Pengadilan Negeri (PN) Mataram. Keduanya dijerat dengan Pasal 2 ayat 1 UU 21 Tahun 2007 tentang Perdagangan Orang, subsider 506 jo 55 ayat 1 KUHP Pasal 88 UU 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. 

"Kami tidak melakukan upaya hukum lagi karena sekarang kasusnya sudah inkrah, tinggal menunggu eksekusi," kata Denny. 

Kasus perdagangan manusia itu terbongkar  pada 18 Mei 2014) lalu. Kala itu tim Buser Polres Mataram mendapat laporan tentang aktivitas keduanya yang berperan sebagai mucikari. Kejadian ini berawal ketika seseorang bernama Adi, yang kini berstatus DPO, memesan wanita untuk menemaninya tidur malam itu. 

Kedua terdakwa kemudian menemui korban yang masih di bawah umur untuk menemani Adi, namun permintaan tersebut ditolak oleh korban. Tak terima dengan tindakan korban, Heri pun malah marah dan memaki-maki korban. Karena takut, korban akhirnya menuruti keinginan Heri. 

Keesokan harinya korban datang ke hotel ditemani kawannya. Tapi sampai di hotel, korban tiba-tiba ingin pulang. Karena kesal, terdakwa kembali marah-marah dan memukul kaca spidometer motor yang dinaiki korban hingga pecah. 

Beberapa saat kemudian Adi akhirnya datang, dan dipertemukan dengan korban. Adi lalu mengajak korban masuk ke salah satu kamar hotel. Setelah beberapa jam kemudian, keduanya keluar. Adi kemudian menyerahkan uang kepada Heri dan Sukron sebesar Rp 500.000. 

Oleh kedua terdakwa, korban diberikan imbalan sebesar Rp 150.000. Sementara sisanya dibagi dua untuk terdakwa Heri dan Sukron serta membayar kamar hotel. (KOMPAS.COM)

Editor: Dicky Fadiar Djuhud
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved