FEATURE
Nikmatnya "Nyaneut" di Palabuhan Bulan
Warga di kaki Gunung Cikurai ini pun memiliki kebiasaan meminum teh pada malam hari.
Penulis: Muhamad Syarif Abdussalam | Editor: Kisdiantoro
GARUT, TRIBUN - Hampir seluruh kebudayaan di dunia memiliki tradisi atau upacara untuk meminum teh. Di Jepang, Korea, dan Cina, teh disajikan dalam sebuah upacara yang nampak sakral dan serius, disajikan dalam poci dan cangkir tanah liat.
Di Eropa, teh disajikan dengan kue-kue manis pada sore hari. Sama seperti di Eropa, warga Timur Tengah dan Afrika pun menikmati teh bersama keluarga atau kerabat pada sore atau malam hari, menjadi pelepas lelah dan hidangan untuk bersantai.
Masyarakat Sunda pun memiliki tradisi meminum teh. Bagi warga Cigedug dan sekitarnya di Garut, tradisi meminum teh ini disebut dengan "nyaneut". Dalam tradisi ini, teh yang digunakan adalah teh kejek, yakni teh khas Cigedug dan sekitarnya.
Tradisi "nyaneut" mulai berakar saat ilmuwan Belanda, Karel Frederik Holle membuka perkebunan teh di Cigedug dan Bayongbong pada abad ke-19. Sejak itu, kawasan dataran tinggi di Garut ini menghasilkan teh berkualitas baik.
Warga di kaki Gunung Cikurai ini pun memiliki kebiasaan meminum teh pada malam hari. Hal ini merupakan upaya untuk menghangatkan tubuh mereka dari dinginnya udara malam.
Dalam tradisi nyaneut, air dimasak di atas anglo, yakni tungku tanah liat dengan bahan bakar berupa arang. Air panas kemudian diisikan ke dalam poci yang terbuat dari tanah liat.
Satu sendok makan teh kejek khas Cigedug pun dimasukkan ke dalam poci. Buih langsung terbentuk saat air panasnya melarutkan daun teh kering itu. Setelah didiamkan beberapa saat, teh dituangkan ke dalam cangkir yang terbuat dari batok kelapa atau cangkir seng khas tempo dulu.
Sebagai pendamping teh, disajikan bersama talas, kacang tanah, singkong, ubi, dan pisang, yang semuanya dikukus di atas anglo. Uniknya, makanan ringan ini disajikan bersama potongan gula merah. Dalam tradisi "nyaneut", gula merah dipakai untuk mempermanis teh atau dimakan bersama singkong kukus.
Teh dan makanan penyertanya dinikmati bersama keluarga atau kerabat. Tradisi "nyaneut" biasanya digelar setiap malam hari secara lesehan. Jika memungkinkan, api unggun dibuat di sekitar tempat berkumpul tersebut untuk menghangatkan tubuh.
Tradisi "nyaneut" ini kembali dipopulerkan dalam acara Garoet Mooi di Lapangan Situgede, Kecamatan Cigedug. Ketua Panitia Garoet Mooi, Dasep Badruzzaman, mengatakan upaya ini dilakukan untuk menggugah masyarakat Cigedug supaya menggemari tradisi "nyaneut".
"Cigedug memiliki teh yang punya rasa khas, namanya teh kejek. Namanya demikian karena pembuatannya dengan cara diinjak atau dalam bahasa sunda, dikejek," kata Dasep dalam kegiatan tersebut yang digelar sampai Kamis (30/10) menjelang tengah malam.
Sebelumnya dalam helaran Garoet Mooi, sembilan komunitas budaya dari berbagai penjuru Kabupaten Garut berkumpul di Lapangan Situgede, Kecamatan Cigedug. Mereka mengikuti pergelaran seni dan budaya dalam event Garut Mooi.
Dalam helaran itu, air dari sembilan penjuru Kabupaten Garut disatukan dalam ritual Kawin Cai. Penyatuan air dari sembilan mata air tersebut dimaksudkan sebagai lambang silaturahmi dan persatuan sembilan komunitas budaya di Kabupaten Garut. (Sam)