Rabu, 8 April 2026

Perempuan Berbagai Profesi di Sukaresmi Garut Tak Bisa Menulis

SEJUMLAH mahasiswa diturunkan guna memberantas indikasi buta huruf di Kecamatan Sukaresmi, Garut.

Penulis: Muhamad Syarif Abdussalam | Editor: Dicky Fadiar Djuhud

GARUT, TRIBUN - Sejumlah mahasiswa diturunkan guna memberantas indikasi buta huruf di Kecamatan Sukaresmi, Garut. Di lokasi tersebut, perempuan yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga, pedagang, atau petani tidak bisa menuliskan namanya dan nama suaminya sendiri.

Dosen sekaligus Ketua Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LPPM) STAI Persatuan Islam Garut, Heri Mohamad Tohari mengatakan berdasarkan penelitian yang mirip dengan sensus penduduk. Contohnya, di sebuah dusun di Kecamatan Sukaresmi, dari 593 perempuan yang sudah menikah, 78 di antaranya tidak bisa menulis namanya sendiri, 107 di antaranya tidak bisa menuliskan nama pekerjaannya, dan 121 diantaranya tidak bisa menuliskan nama suaminya.

Di dusun lainnya, dari 918 perempuan yang telah menikah, 190 perempuan diantaranya tidak bisa menuliskan angka, 61 perempuan tidak bisa menulis namanya sendiri, 98 tidak bisa menuliskan nama pekerjaannya, dan 101 perempuan tidak bisa menuliskan nama suaminya.

"Kami belum merekap semua datanya sehingga belum ada jumlahnya. Namun, hal ini sudah mencerminkan ketertinggalan warga dalam hal literasi dalam jumlah sangat besar. Ini belum masuk ke Garut wilayah selatan, lokasinya masih bisa dicapai engan 1 jam perjalanan menggunakan kendaraan dari kota," kata Heri, Senin (15/9/2014).

Penulisan nama dan pekerjaan, katanya, merupakan indikator paling sederhana dalam kemampuan membaca dan menulis. Jika menulis nama sendiri saja sulit, katanya, untuk mengerti KTP, label obat, dan tulisan lainnya, sangat berat. Kebanyakan perempuan di kecamatan tersebut, ditinggal suaminya pergi bekerja ke luar daerah.

"Kami selesaikan permasalahan ini dengan pendampingan dan pengajaran membaca atau menulis. Dibentuk 20 kelompok belajar di 5 desa tersebut. Pembelajaran dibuat sedemikian mungkin sehingga warga tidak merasa diajari seperti anak sekolah," katanya.

Dalam kegiatan tersebut, 152 mahasiswa STAI Persatuan Islam Garut melakukan berbagai kegiatan untuk melatih dan mengajarkan kemampuan membaca dan menulis warga Kecamatan Sukaresmi. Kegiatan tersebut terutama ditujukan bagi ibu-ibu di 10 dusun dari 5 desa di Kecamatan Sukaresmi, di antaranya Desa Sukamulya, Mekarjaya, Cintadamai, Sukajaya, Sukalilah.

"Upaya pemberantasan buta huruf ini, berawal dari keprihatinan kita, saat orang mengatakan kini zamannya komputerisasi, teknologi informasi yang maju, dan moderen, di sisi lain, di tempat yang hanya berjarak satu jam dari pusat Kota Garut, ada masyarakat yang tidak bisa membaca dan menulis," kata Heri. (sam)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved