Cerpen

Anak Pintaan

DARI sekian banyak dongeng yang dikisahkan kajut-ku, emak bapakku, aku paling menyukai ceritanya tentang anak yang dilahirkan dengan empat tetek.

Anak Pintaan
istimewa
Guntur Alam, penulis novel Di Bawah Langit Jakarta

"Antara jam dua belas sampai jam satu malam," kata kajut. "Kalau bukan purnama, biasanya hujan deras."

"Kenapa begitu, Jut?"

Kajut menoleh. Bibirnya masih sibuk mengunyah sirih. Beberapa kali dia meludah ke dalam peliman, kaleng bekas biskuit bergambar perempuan Belanda tengah naik sepeda. Tempat itu memang kajut gunakan untuk menampung ludah. Agak menjijikan.

"Entahlah, aku tak tahu."

"Kenapa tak tahu, Jut?" aku masih mengejarnya. Dia merengut dan mendelik.

"Tak semua hal kuketahui," dengusnya.

Hari itu aku baru paham. Ternyata ada juga yang tidak kajut-ku ketahui dari dongeng yang dia kisahkan. Biasanya dia selalu punya jawaban atas semua pertanyaanku pada ceritanya. Seperti kenapa Ketetem hanya mencungkil mata anak bujang nakal? Karena gadis malang itu dibunuh oleh sekelompok bujang nakal.

Kenapa Hantu Seriman keluar waktu magrib? Karena magrib orang-orang tua sembahyang di rumah dan di langgar, jadi anak-anak mudah diculiknya. Dia selalu punya jawaban. Tapi tidak kali ini. Dan mungkin itulah yang membuatku menyukai ceritanya tentang anak pintaan dari kajut.

**

PERIHAL anak pintaan ini, aku punya kawan sebaya yang kata orang-orang anak pintaan. Namanya Sapuwan. Dia memang anak lanang tunggal di rumahnya. Lahir tengah malam saat purnama.

Punya dua tetek lagi di bawah ketiaknya, aku sudah melihatnya sendiri, dan tentu saja saat membuntingkan dia, emaknya beberapa kali mimpi aneh tetapi selalu mimpi yang sama.

Aku hampir lupa mengisahkan bagian itu.

Setiap perempuan yang akan melahirkan anak pintaan, dia pasti kerap bermimpi aneh dan ganjil dan sama. Tak ada beda.

Kata orang-orang, dari yang kudengar dan Sapuwan mengiyakan juga serta mengisahkan ulang pada kami. Saat emaknya membuntingkan Sapuwan, emaknya kerap bermimpi ditemui laki-laki tua berjanggut putih dan memakai lilitan kain basahan mandi di atas kepalanya.

Laki-laki itu juga hanya mengenakan sarung tanpa alas kaki dan membiarkan dadanya yang kendur serta keriput itu terbuka. Dalam mimpi emaknya itu, si laki-laki tua memberinya kain yang dililitkan di kepala itu. Selalu seperti itu mimpinya. Dan emaknya terbangun saat sudah menerima kain.

Mulanya, emak Sapuwan tak hendak menceritakan mimpi ganjilnya. Tapi lama kelamaan, dia tak kuat dan akhirnya mengisahkan pada mertua perempuannya. Tak dinyana, perempuan yang mulai mengeriput itu terperanjat seperti disengat lipan.

"Kenapa?" aku dan Pebot tak kuasa untuk menahan rasa penasaran.

Sapuwan menelan ludah, seolah-olah dia ikut cemas dan ketakutan. Ganjil sekali tingkahnya.

"Karena laki-laki tua yang emakku gambarkan dalam mimpinya, mirip sekali dengan puyang kami."

"Puyang-mu yang mana?" Pebot melipat keningnya.

"Kakek bapakku. Tak akan kau kenal lah," dia mendengus. Pebot dan aku mencibir.
"Lalu?" aku menunggu.

Seperti yang Sapuwan ceritakan. Kajut-nya terperanjat dan bertanya pada emaknya. Apa dia meminta anak bujang dan berjanji membuat selamatan? Dengan takut-takut, emaknya mengangguk. Wajah mertuanya makin pasi.

Aku bingung kenapa Sapuwan mengatakan kajut-nya pucat pasi mendengar cerita emaknya tentang mimpi ganjil itu. Bukankah mereka justru bahagia lantaran akan punya anak-cucu bujang di rumah? Generasi penerus leluhur. Apa mungkin sangi (nazar)-nya terlalu berat? Ternyata tidak juga, emaknya hanya berjanji akan membuat bubur tiga warna.

"Lalu kenapa kajut-mu ketakutan?" Pebot sepertinya punya pikiran yang sama denganku. Sapuwan terdiam. Aku melihat gerakan di lehernya, dia menelan ludah.

"Sebab, biasanya anak pintaan meminta upah lebih mahal, kata kajut-ku."

"Upah?" aku dan Pebot saling pandang, tercengir. Ada-ada saja. Macam kami saja yang minta diupah saban bulan puasa agar tak batal puasanya. Bila sanggup menahan haus dan lapar sampai magrib, kami akan diberi berapa rupiah. Aku nyaris terkekeh membayangkan itu. Enak sekali anak pintaan itu.

"Upahnya nyawa," desis Sapuwan yang membuat seringai di wajahku dan wajah Pebot langsung lenyap. Mata kami membulat.

"Bapakku mati muda karena aku anak pintaan kata kajut-ku," suaranya makin melirih. Aku merasa tengkukku meriap.

"Pasti kau bergurau," Pebot mewakili kesangsianku.

"Tak," Sapuwan cepat membantah. "Begitulah adanya. Emakku mimpi bertemu puyang dari pihak bapak. Itu artinya kalau aku berumur panjang, ya bapak atau kakekku yang meninggal. Itu takdir dari anak pintaan."

"Kalau emakmu mimpi bertemu puyang dari pihak keluarganya?" tanyaku takut-takut.

"Berarti bisa jadi bapaknya emakku yang mati."

Aku menelan ludah. Pahit. Takut. Merinding sekaligus tak percaya.

"Kau juga anak pintaan-kan, To?" ucap Sapuwan. Aku mengangkat wajah. Memandangnya dan mengalihkan mata ke arah Pebot.

"Siapa?" tanyaku bergetar.

"Kau," jawab Sapuwan. Enteng tapi membuat lututku lemas. Kupandang dia. Dia tak tersenyum. Tak tertawa tanda bergurau. Tak ada ekspresi apa-apa. Aku merasa bulu kudukku berdiri tegak seperti barisan prajurit yang mengarahkan bambu runcing ke udara.

***

Guntur Alam lahir dan besar di Tanah Abang Muara Enim. Buku novelnya teranyarnya, Di Bawah Langit Jakarta, Penerbit Noura Books. Kini menetap di Penukal Abab Lematang Ilir, Sumatra Selatan.

Editor: Dicky Fadiar Djuhud
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved