Cerpen

Anak Pintaan

DARI sekian banyak dongeng yang dikisahkan kajut-ku, emak bapakku, aku paling menyukai ceritanya tentang anak yang dilahirkan dengan empat tetek.

Anak Pintaan
istimewa
Guntur Alam, penulis novel Di Bawah Langit Jakarta

Bila kau perempuan dan tak kunjung bunting, orang-orang, termasuk suami dan mertuamu, akan lekas menuding dirimu mandul. Bila kau sudah berkali-kali mengembungkan perut dan saban mengempiskannya hanya meng-oek-an anak gadis, kau pula yang akan ditunjuk muka sebagai musababnya.

Ujung dari cerita ini hanya dua: kau diceraikan karena dianggap tak becus atau kau rela dimadu dengan perempuan lain yang dianggap mampu memberi keluarga suamimu anak bujang. Silakan pilih. Sialnya, di antara dua pilihan itu semuanya pahit.

Akan kuberi kau kisah tentang Bi Enoi, perempuan yang jadi tulang punggung keluarga itu. Saban pagi dia akan gegas menggenjot sepedanya, menembus kabut dan udara pagi yang mengecup sumsum. Sudah hampir lima tahun dia menyadap karet sendiri.

Perkaranya sudah basi sekali. Kelima anak yang dia ejankan dari gua di antara kedua pahanya itu adalah perempuan. Lalu, suaminya, Kuwar, laki-laki berbadan tegap dengan kulit kuning langsat dan wajah rupawan itu, berbini dua.

Tak ada yang dapat dilakukan Bi Enoi. Dia tak meratap. Tak pula menangis dan meracau. Dia hanya mengangkat wajah dan banting tulang menghidupi kelima anaknya. Sementara lakinya sudah berbahagia lantaran istri keduanya sekali beranak langsung meng-oek-an anak bujang.

Nasib. Begitu saja orang-orang dusun mengatakannya. Dan tak ada yang bisa berbuat apa-apa. Ritme hidup Bi Enoi terus berjalan. Anak-anak gadisnya tumbuh besar. Dia pun sudah lama kering kerontang dalam malam-malam yang mencucuk kulit di tepi Sungai Lematang ini.

Tak heran, bila banyak perempuan yang belum jua punya anak bujang rela melakukan apa pun. Maling kayu sereket pengaron nasi sebelum matang dalam periuk milik sanak-kerabat yang sudah punya anak bujang.

Lalu memakai kayu pengaron itu sekali saat menanak beras di rumahnya, memakan nasi yang tertinggal, dan menyimpannya di bawah ranjang tempat dia dan suami merajut harapan. Ada pula yang percaya harus makan pisang emas atau pisang udang setiap malam Jumat. Dan tentu saja, termasuk melakukan pintaan.

Berharap leluhur bermurah hati dan memberinya anak bujang.

Banyak tanda seseorang adalah anak bujang pintaan. Tentu saja selain dia putra tunggal di keluarganya dan punya empat tetek di badannya. Selain itu, anak pintaan selalu lahir tengah malam.

Halaman
1234
Editor: Dicky Fadiar Djuhud
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved