Cerpen

Anak Pintaan

DARI sekian banyak dongeng yang dikisahkan kajut-ku, emak bapakku, aku paling menyukai ceritanya tentang anak yang dilahirkan dengan empat tetek.

Anak Pintaan
istimewa
Guntur Alam, penulis novel Di Bawah Langit Jakarta

"Saat lahir pertama kali, tetek di bawah ketiak anak pintaan akan membesar. Itu sebagai tanda kalau dia anak pintaan. Keluarganya harus selamatan bubur dan membuat sesaji untuk diantarkan pada makam leluhur sekaligus membayar nazar yang diucapkan emaknya. Jika tidak, usianya tak akan panjang."

Sebenarnya, aku hendak menyangkal cerita kajut tentang ini. Usiaku sudah dua belas tahun dan guru agama Islam di sekolah mengatakan, kami tak boleh percaya pada reinkarnasi. Tak ada kelahiran kedua.

Tak ada anak pintaan. Tak ada sesajen selamatan di makam leluhur. Tapi aku membungkam mulutku. Aku tahu tabiat kajut, dia akan marah dan memukulku jika membantah ceritanya. Aku menganggap kisahnya hanya dongeng. Andai-andai yang kerap dia dengungkan saat umurku masih hitungan jari tangan.

Ganjilnya, bila tengah menceritakan dongeng tentang anak pintaannya ini, mata kajut akan berbinar-binar saat menatapku, seperti ada kaca-kaca yang terperangkap di sana. Dia kerap mengelus-elus rambutku.

Kalau dulu, aku pasti sudah membaringkan badan dan meletakkan kepala di salah satu pahanya, membiarkan kajut mengusap rambutku dan aku biasanya akan jatuh tertidur. Namun sejak usiaku lewat sepuluh tahun, aku tak mau melakukan itu lagi. Menurutku agak memalukan anak laki-laki bermanja-manja pada emak atau kajut-nya.

**

                                                                                             Grafis : WAHYUDI UTOMO

SEPERTI di ceritaku yang sudah-sudah, di dusun kami, anak bujang memang kebanggaan keluarga. Sebuah keluarga dianggap tak akan memiliki generasi penerus jika mereka tak punya anak bujang, sebanyak apa pun anak gadis yang sudah dia miliki.

Mengerikan, bukan? Jadi itulah mengapa semua perempuan yang bersuami rela melakukan apa pun demi bisa meranakkan seorang anak bujang dari selangkangannya.

Kenapa pula harus perempuan yang berpayah-payah dan ketar-ketir ihwal ini? Tersebab perempuanlah yang akan mati ketakutan bila tak kunjung punya anak bujang. Di dusun kami, perempuan selalu salah.

Halaman
1234
Editor: Dicky Fadiar Djuhud
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved