Cerpen

Kepala Tikus

ENTAH kenapa belakangan ini ada yang kerap bergerak liar di dalam kepalaku. Ia seperti punya kemauan sendiri.

Kepala Tikus
GRAFIS / WAHYUDI
illustrasi

Pada suatu malam yang lain aku pernah merasa berhasil membuat sebuah terowongan. Tapi anehnya aku malah tersesat di dalam sebuah kamar. Hasratku tak tertahan lagi ketika perempuan di dalam kamar itu tahu kedatanganku.

Dia adalah perempuan yang selalu kukunjungi setiap penat dalam kepala sudah menumpuk sedemikian banyaknya. Yang jelas dia bukan istriku. Istriku sepertinya mencium gelagat anehku itu.

Tapi aku mati-matian mengelak lantaran aku memang tidak menyembunyikan apa-apa. Apa yang terjadi di dalam kepalaku itu kupikir bukanlah kenyataan meski pada malam-malam yang lain aku merasa perlu memberikan sejumlah uang dan perhiasan kepada perempuan di dalam kamar itu.
Dan aku sadar uangku benar-benar berkurang karenanya. Ada sedih yang menyembul sesaat, tapi kemudian terlindih oleh rasa senang setelah berhasil meluapkan sesuatu yang lama tertahan-tahan.

Hanya saja, anehnya kebencianku terhadap kebiasaan Pak Brojo semakin bertambah.

"Tak terpikirkah cara membunuh tikus yang lebih baik?" komentarku pada suatu pagi yang masih remang. Seekor tikus dibuatnya pingsan lagi. Tubuhnya lalu dilemparkan begitu saja ke tengah jalan raya hingga terlindas sebuah bus yang tergesa-gesa mencari penumpang.

Entah mengapa hal itu mengingatkanku pada mulut-mulut tak berotak yang mengusulkan hukuman aneh-aneh kepada KPK, yang intinya hukuman harus dibuat sekejam mungkin agar menimbulkan efek jera. Seolah mereka yang bersalah itu bukanlah manusia, melainkan benar-benar hewan menjijikkan.

"Ah, itu kan hanya tikus, Pak," Pak Brojo menanggapi dengan senyum, seolah tak merasa berdosa. Ia enggan memakai racun tikus. Khawatir jika bangkainya berdiam di atas plafon. Dengan memakai perangkap yang umpannya sering ganti-ganti itu, mudah sekali ia menangkap para pengacau tersebut.

Setiap kali bertemu Pak Brojo, tikus pun kemudian selalu menjadi menu utama pembicaraan kami. Dan entah kenapa aku tidak merasa malas dengan orang ini, padahal biasanya aku amat malas bersua dengan orang lain meski itu tetangga sendiri.

Padahal aku amat benci dengan kelakuan orang ini ketika ia bercerita tentang segala upayanya memberantas gerombolan tikus yang menggerayangi rumahnya.

Kebencianku terhadap Pak Brojo selalu hanya bisa kuluapkan dengan sindiran-sindiran halus bahwa dia tak berperikemanusiaan meski dia selalu menyanggahnya bahwa itu hanyalah tikus, parasit tikus. Anehnya, kebencian itu semakin menjadi-jadi tatkala aku berada di lingkungan kerja.

Halaman
1234
Editor: Dicky Fadiar Djuhud
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved