Cerpen

Kepala Tikus

ENTAH kenapa belakangan ini ada yang kerap bergerak liar di dalam kepalaku. Ia seperti punya kemauan sendiri.

Kepala Tikus
GRAFIS / WAHYUDI
illustrasi

"Bapak enggak percaya, ya? Bener lho, Pak. Kalau sudah begitu, Pak Brojo lalu membuangnya ke jalan raya. Biar dilindas truk, katanya!" tangannya tak mau diam. Membuat tubuhnya yang sudah seperti karung gula ikut bergerak pula. Sesuatu yang kadang membuatku kehilangan gairah di atas ranjang.

"Nah, itu, itu!" tunjuknya ketika melihat sosok Pak Brojo. "Itu tikus, ya, Pak?! Itu tikus, ya, Pak?!" serunya sambil terburu melangkah, seperti mengejar seorang artis. "Ayo, Pak! Bapak harus lihat!" melambai ke arahku. Sepertinya dia tadi hampir melupakan keberadaanku.

Dengan malas aku bangkit. Pak Brojo kelihatannya juga sengaja menungguku. Setelah agak dekat, baru kulihat dia melemparkan tikus yang sudah tak berdaya itu ke jalan raya.

Dikocok-kocok dulu sampai pingsan, katanya. Hampir setiap hari perangkapnya itu berhasil mendapatkan tikus. Jejaknya bisa dilihat dari bekas tubuh tikus yang sudah rata dan menyatu dengan aspal. Kulihat memang ada banyak. Mungkin delapan atau sepuluh ekor.
Press! Kletesss!

Aku langsung menoleh dari percakapan tatkala terdengar bunyi yang memiriskan tadi. Sebuah truk melintas tanpa rasa berdosa. Detik berikutnya aku jadi kurang konsen dengan percakapan.

Semuanya tersingkir oleh selaksa perasaan aneh tak tertera yang memenuhi dadaku. Antara sedih, takut, ada juga benci. Aku tidak tahu mengapa tiba-tiba benciku kepada Pak Brojo timbul. Kalaupun dia membunuhi tikus-tikus itu dengan cara sadis, bukankah itu urusannya sendiri?

**

PERASAAN aneh tak tertera itu masih menguntit dan malah semakin menguasaiku tatkala malam mulai menyelimuti semua. Kurasa aku sedang terbaring di samping istriku. Tapi sepertinya ada yang menculikku ke sebuah dunia lain. Aku sedang lari. Melompat ke sana-kemari seperti tengah dikejar-kejar sesuatu.

Entah bagaimana kemudian muncul keinginanku untuk menggali. Entah menggali untuk apa, tapi aku terus saja menggali hingga sampai pada kedalaman tertentu untuk kemudian berubah arah, tapi tetap terus menggali.

Berkali-kali aku merasa terbentur jalan buntu. Agak merasa konyol—sepertinya aku membentur lantai keramik. Dalam gelap kemudian aku berbalik arah mencari jalan lain, meski kemudian masih membentur dinding keramik. Entah bagaimana bisa, tapi aku yakin sekali karena aku paham betul bau benda itu. Maka akupun terus menggali dan menggali.

Halaman
1234
Editor: Dicky Fadiar Djuhud
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved