Cerpen

Kepala Tikus

ENTAH kenapa belakangan ini ada yang kerap bergerak liar di dalam kepalaku. Ia seperti punya kemauan sendiri.

Kepala Tikus
GRAFIS / WAHYUDI
illustrasi

Oleh Adi Zamzam

ENTAH kenapa belakangan ini ada yang kerap bergerak liar di dalam kepalaku. Ia seperti punya kemauan sendiri. Setiap malam mengajakku berkeliaran di bawah bayang-bayang gelap, rumah, gedung, atau entah bangunan apa.

Mengintai, menyusup, menggali, keadaan-keadaan yang sungguh tak kupahami karena selalu saja menimbulkan perasaan khawatir dan ketakutan tiba-tiba, yang tak pernah kumengerti alasannya.

Kadangkala aku ingin membebaskan sesuatu yang sering bergerak liar dalam kepalaku itu. O, andai saja aku bisa melepaskan kepalaku yang ini dan menggantinya dengan kepala yang lain. Sering aku merasa bahwa kepalaku ini bukanlah kepala, melainkan sebuah sarang yang dihuni makhluk entah. Dan aku merahasiakan semua itu dari semua orang, termasuk istriku sendiri.

**

PERKIRAANKU, semuanya dimulai ketika Pak Brojo, tetangga sebelah kiri rumahku, tengah disibukkan dengan program pemberantasan tikus yang menggerayangi rumahnya. Kabar yang sering diceritakan istriku selalu bersaing ketat dengan berita-berita tentang pemberantasan korupsi di televisi yang aku tonton.

"Tikusnya besar-besar, Pak. Bener! Segede gini!" celoteh istriku di suatu sore, saat kusantaikan tubuh di kursi teras rumah setelah seharian dihajar kesibukan. Aku enggan membayangkannya.

Seumur hidup belum pernah kulihat tikus sebesar itu. Tangan istriku sekarang sudah tidak seperti dulu lagi. Sekarang dia sudah disibukkan dengan program-program pengurusan badan pascakehidupanku yang sudah mapan.

"Kucing-kucing saja jadi enggan memangsanya. Atau mungkin kucingnya yang penakut, ya, Pak?" cerocosnya lagi. Dia memang begitu. Ceriwis. Jika sudah menemukan bahan omongan, mulutnya akan seperti kereta yang baru keluar dari stasiun. Tapi aku suka. Sebab kereta tidak bisa menengok apa-apa yang disembunyikan di belakangnya.

"Mungkin kucingnya sudah kenyang," ujarku pendek, tak mau dia menganggapku tak memperhatikan. Bagaimanapun juga, dialah istri susahku sejak dua puluh tahun silam.

Halaman
1234
Editor: Dicky Fadiar Djuhud
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved