Cerpen

Doraemon dan Korban Pemilu

TAPI jangan sekali‑kali bertanya mengenai ayah Shizuka dan Giant kepadaku karena itu adalah usaha sia‑sia.

Doraemon dan Korban Pemilu
DOKUMENTASI WARTA KOTA
illustrasi doraemon. 

FILM Doraemon sudah hampir tamat. Episode terakhirnya sudah dibuat dan diumumkan, tapi sejauh ini aku belum pernah melihat ayah Shizuka dan Giant. Benarkah mereka berdua anak yatim?

Pertanyaan sepele itu terus menerorku sepanjang waktu. Aku bertanya pada kawan‑kawanku, tapi mereka hanya menggeleng dan tertawa. Aku tahu sebagian besar di antara mereka—bahkan mungkin juga dirimu—menganggap pertanyaanku itu sebagai sesuatu yang lucu dan sama sekali tidak penting.

Aku merasakan hal itu setelah mencermati bahasa tubuh mereka. Itu bukan tipikal gelengan tidak tahu, tapi gelengan meremehkan atau tak habis pikir dan tawa itu adalah sejenis ejekan.

Aku memaklumi perilaku itu karena mereka—yang mungkin juga dirimu—memang tidak mengerti harga sebuah fanatisme. Aku menyukai film animasi Jepang karya Fujiko F. Fujio ini sejak televisi swasta lahir di negeri ini. Itulah masa ketika acara‑acara televisi swasta menggeser tayangan‑tayangan TVRI yang mulai terasa ketinggalan zaman.

Dahulu di hari Minggu pagi, hiburan utama masa kanak‑kanakku adalah melihat film Si Unyil. Drama boneka tangan ini begitu digemari anak‑anak, bahkan orang dewasa. Tapi zaman berubah, di jam yang sama di stasiun televisi swasta diputar Doraemon.

Kecanggihan dan variasi cerita yang lebih menarik dengan sendirinya merenggut kami dari serial Si Unyil. Serial robot kucing dari masa depan dengan kantong ajaib yang bisa mengeluarkan apa saja itu lantas mengisi hari‑hari Minggu kami yang berwarna.

Film Doraemon ini terus diputar secara rutin di hari Minggu hingga aku sedewasa ini, hingga akhirnya terdengar berita bahwa serial ini akan ditamatkan. Berita ini menerbitkan rasa sedih di hatiku. Aku teringat masa ketika aku dan tokoh Nobita sama‑sama duduk di kelas empat SD.

Kini aku sudah berusia tiga puluh dua tahun dan Nobita masih kelas empat SD. Terbayang, bukan, betapa panjang film itu menyertai hari‑hariku hingga di usia sekarang? Aku merasakan sesuatu yang sulit. Ultimatum tentang episode terakhir ini membuat tidurku tidak nyenyak.

Sebagai pelampiasannya, aku mencari‑cari bagian dalam film itu yang belum pernah kulihat. Aku menguliti kejanggalan‑kejanggalannya sebagai usaha untuk menekan kesedihan, dan bermuaralah semuanya pada pertanyaanku itu.

Sepanjang lebih dari dua puluh tahun aku melihat serial Doraemon, aku belum pernah melihat ayah Shizuka dan Giant atau Takeshi. Jadi, masuk akal bukan jika aku bertanya apakah mereka itu anak yatim?

Halaman
1234
Editor: Dicky Fadiar Djuhud
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved