Cerpen

Sifat Sedih Hujan

"Hujan adalah kecemasan. Bagi gadis-gadis zaman sekarang, hujan tidak pernah identik dengan kebahagiaan."

Sifat Sedih Hujan
BANJARMASIN POST GROUP/DENNY
Illustrasi 

AKU bertemu hujan yang tak tidur, hujan yang duduk termenung di sebuah halte kumuh pada tengah malam ketika angin sedang berembus sambil menebar daun-daun kecemasan.

"Lho? Hujan?" Aku menyapanya. Ia menoleh padaku, matanya yang sepenuhnya berupa air itu terlihat pucat, nyaris tak ada cahaya. Namun ia tak menjawab apa-apa.

Belum pernah aku melihat hujan sebelumnya. Maksudku, belum pernah aku melihat hujan dalam sosok seperti ini, duduk seperti orang kesepian. Sebagai sesama makhluk malam, aku berusaha untuk cepat memahami keadaannya. Aku merasa ia sedang sedih. Hujan manakah yang lebih sedih dari hujan yang sedang ada di hadapanku ini? Kulihat ia memeluk lulutnya seakan kedinginan, apakah ia butuh selimut? Bahkan ia tak terlihat seperti punya tempat tinggal.

Hujan masih diam. Aku memberanikan diri untuk duduk di sebelahnya. Rambutnya yang air, wajahnya yang air, bajunya yang air, bagiku seperti sebuah kutukan penuh air.

"Apa kau tersesat?" Kuberanikan untuk bertanya lagi. Kuharap ia tak terlalu lama dalam keheningan, sebab itu bukan sifat hujan yang dikenal selalu menimbulkan suara, memercikkan dirinya pada atap-atap rumah, pada tanah dan pepohonan, pada kerikil dan daun-daun, pada pekarangan dan kolam-kolam.

"Siapa kau?"

Nah. Akhirnya ia mau membuka suara. Seperti kucuran air yang menembus celah-celah terkecil kehidupan.

"Aku hanya orang yang kebetulan sedang insomnia, lalu berjalan-jalan sebentar untuk cari angin, hingga bertemu denganmu."

"Kau mencari angin, kau sudah mendapatkannya. Jadi pergilah," jawabnya. Mungkin ia tersinggung, mungkin ia akan senang kalau kubilang aku sedang cari hujan. Barangkali perasaannya sedang sensitif, seperti sedang datang hujan.

Sesaat kami sama-sama terdiam. Aku harus berpikir lebih lama untuk memilih kata-kata agar tak menyinggung perasaannya. Aku memang tak begitu paham biografi hujan, tapi bisa kupastikan bahwa ia sedang sedih. Kulihat wajahnya yang murung, wajah hujan yang kelabu, terdengar denyut mendung dari balik kulit tubuhnya. Kubayangkan kalau hujan ini lantas tumpah begitu saja, tidak turun dari langit, melainkan langsung menggumpal dan pecah, apakah akan banjir? Ah. Sebaiknya aku menahan segala dugaan, aku takut hujan ini bisa membaca pikiranku. Biasanya, dalam cerita pendek seperti ini, makhluk-makhluk aneh seperti hujan memiliki kemampuan yang di luar akal.

"Ini sudah lewat pukul dua belas, apa kamu sedang ada masalah?" tanyaku lagi, dalam keadaan bertanya-tanya sendiri, masalah apa yang dihadapi hujan? Bukankah terkadang hujan sendiri dianggap sebagai masalah?

"Aku tak jadi turun malam ini." Ia menjawab dengan suara lirih.
"Tak jadi turun?"
"Ya. Seorang gadis telah berdoa agar aku tak turun malam ini. Dan doa itu dikabulkan."

Kuduga ini akan jadi sentimentil. "Kalau kamu tidak turun malam ini, kamu bisa turun lain kali."
Mendengar ucapanku, hujan menoleh padaku. "Tidak sesederhana itu. Aku sudah mempersiapkan diri untuk turun malam ini. Aku sudah berdandan, sudah kusiapkan gerimis, sudah kusiapkan gemuruh yang tak begitu keras, tapi semuanya batal karena seorang gadis berdoa kepada Tuhan agar aku tidak turun."

"Kau kenal gadis itu?"
"Tidak."

Tak kukira sebuah doa bisa begitu merepotkan. Aku bisa memahami perasaannya. Mengapa seorang gadis sampai berdoa agar tak diturunkan hujan? Apakah gadis itu sedang bahagia? Kalau ia sedang bahagia, tak perlu ia mengganggu takdir hujan. Kalau ia cemas akan kebahagiaannya, tak perlu ia menyalahkan hujan. Masih banyak hal lain yang mencemaskan di dunia ini, jadi biarkan hujan tetap turun. Apalagi hujan yang akan turun ini bisa jadi hanya hujan kecil yang sabar, bukan badai, bukan seperti tsunami yang menghancurkan, gadis itu tak akan terganggu hanya karena hujan. Apakah semua ini berhubungan dengan cinta? Apakah gadis itu takut cintanya kandas akibat hujan? Cinta macam apa yang takut hujan? Apakah gadis itu takut kehilangan seorang lelaki yang dicintainya hanya karena hujan?

Tiba-tiba aku teringat ucapan Nalea. "Hujan adalah kecemasan. Bagi gadis-gadis zaman sekarang, hujan tidak pernah identik dengan kebahagiaan."

Benar juga, hujan hanya cocok dengan nuansa sendu, kesedihan yang berlapis-lapis, yang seolah akan lebih meresap jika diguyur hujan. Hal-hal bahagia tak akan memberi ruang untuk hujan. Acara kencan dan pertemuan pasti tidak ingin dihadiri hujan, acara pernikahan pasti selalu menangkal hujan.

Dalam banyak hal tentang kebahagiaan, hujan hanyalah pengganggu, tapi sebaliknya, hujan seperti menjadi kekasih segala jenis kesedihan. Lihatlah ketika ada pemakaman, keadaannya akan lebih terenyuh kalau turun hujan, orang-orang berpakaian hitam yang melayat di bawah payung. Lihat pula di tempat-tempat yang baru saja ditimpa bencana alam, gempa bumi, angin puyuh, penggusuran. Jika tiba-tiba hujan turun di sana, maka akan membuat suasana jadi lebih mendalam, orang-orang yang ditimpa musibah akan tampak lebih sendu di bawah guyuran hujan.

"Kalau aku tak turun malam ini, mungkin aku akan dipindahkan untuk turun di tempat lain, tempat yang tak kukenal," kata hujan.
"Apakah penting bagimu untuk turun di tempat tertentu?"
"Tentu saja. Aku sangat mengenal tempat ini, jalan raya, rumah-rumah, jembatan, pepohonan, aku sudah tahu di mana diriku nantinya tergenang, di sungai mana aku akan hanyut lalu selesai...."

Sekarang aku sadar, ia hanya hujan yang akan turun sampai dirinya habis diserap tanah. Ia hanya akan membasahi, tidak menghanyutkan. Betapa sederhana keinginan hujan, ia hanya ingin meresap di bumi sebagaimana yang telah dijanjikan kepada dirinya sejak ia diciptakan.

"Tapi biasanya ada juga orang-orang yang minta diturunkan hujan." Aku berusaha menghiburnya.
"Yang seperti itu sudah ditinggalkan. Hari ini, tak ada yang berdoa minta diturunkan hujan. Itu akan dianggap lelucon."

Bagaimana mungkin hujan bisa bicara seperti itu? Padahal aku membayangkan di suatu tempat yang kering-kerontang, bahkan daun-daun pun merindukan hujan, petani-petani yang sawahnya mulai retak, juga burung-burung yang kehausan karena telaga mulai kering, semuanya akan menyambut hujan seperti pahlawan.

"Apa kau juga membenciku? Apa kau sering merasa benci dan kesal ketika aku turun dan membatalkan rencanamu? Manusia tak pernah tahu perasaanku setiap kali aku batal turun." Pertanyaan hujan kali ini mengarah padaku. Dan aku tak tahu harus menjawab apa. Untuk apa membenci hujan? Apakah itu penting? Seakan tak ada lagi yang bisa dibenci dalam hidup ini.

"Kau tak menjawab, kan? Pasti kau membenciku juga," katanya lagi.
"Bukan begitu, kupikir ini bukan masalah benci-membenci."
"Lalu?"

"Ini hanya perkara kepentingan. Masalahnya sederhana, kau sudah dijadwalkan turun, tapi ternyata ada seorang gadis yang berdoa agar kau tak turun. Mungkin kau tak perlu terlalu sedih, sebab aku yakin, pasti ada banyak gadis lain yang berharap dirimu turun untuk menemaninya, yang menunggumu di balik jendela, yang jatuh cinta padamu."

"Gadis lain? Menungguku? Ha-ha-ha. Jangan konyol."
"Konyol bagaimana? Aku sering membaca cerita pendek tentang gadis yang mencintai hujan."
"Sudahlah. Tak usah menghiburku. Bukankah dalam puisi pun aku sudah dianggap picisan? Sekarang aku hanya ingin sendiri. Kalau memang ada seorang gadis yang berdoa agar aku turun, pasti Tuhan sudah mengabarkannya padaku. Jadi pergilah, sebelum aku menamparmu." Suaranya kali ini terdengar sangat tegas, seperti muasal halilintar. Aku jadi sedikit takut.

Aku pun beranjak karena tak mau mengganggunya lagi—dan memang tak punya sesuatu untuk diperdebatkan lebih jauh. Kutinggalkan ia sendirian di halte itu, dalam remang lampu jalan, dalam kusam kehidupan. Setelah ini, aku tidak tahu kelanjutan nasibnya, dan tidak mau tahu.... Kulangkahkan kaki bersama sisa malam, dalam desir angin yang tak tertebak. Sesekali aku berpapasan dengan mobil-mobil yang melaju kencang menuju kegelapan.

Mungkin benar apa kata hujan, bahkan seorang gadis yang sedih pun belum tentu berdoa meminta hujan. Gadis itu pasti sangat sibuk dengan kesedihannya, mengurung diri di kamar, tidak menjawab semua telepon, membiarkan pesan singkat tak terbaca, membiarkan orang tuanya cemas karena sejak sore belum makan. Mana ada waktu untuk memikirkan hujan?

Padahal, jika gadis itu berdoa agar Tuhan menurunkan hujan untuknya, bisa saja hujan itu akan turun untuk menghapus dua kesedihan sekaligus: kesedihannya, dan kesedihan hujan itu sendiri. ***


Sungging Raga lahir di Situbondo, 25 April 1987, pernah menjadi mahasiswa jurusan Matematika Universitas Gadjah Mada. Banyak menulis fiksi.

(Telah diterbitkan di Harian Pagi Tribun Jabar, MInggu 15 Juni 2014)

Editor: Dicky Fadiar Djuhud
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved