Diskusi Buku Mata Air Keteladanan di PSBJ Unpad
Diskusi ini gratis dan 200 orang yang daftar lebih dulu akan dapat satu buku terbaru Yudi
Penulis: Deni Ahmad Fajar | Editor: Deni Ahmad Fajar
SELAMA tiga puluh tahun lebih Orde Baru membangun persatuan dengan menguburkan keragaman. Kearifan komunal dimatikan dengan dalih demi stabilitas nasional. Imajinasi dan kreativitas warga dibolehkan sejauh di bawah sepatu lars. Kondisi ini salah satu pendorong lahirnya reformasi, sebuah gerakan yang mencita-citakan demokrasi, yang berarti menuntut kearifan komunal dan sejarah jadi acuan hidup berbangsa.
Tapi reformasi kemudian dibajak. Para pembajaknya kian jelas menjalankan lagi pola Orde Baru. Kearifan komunal dan sejarah dipolitisasi. Imajinasi dan kreativitas warga dimanipulasi. Jadilah transisi demokrasi belum pula berakhir. Buku pemikir keagamaan dan kenegaraan, Yudi Latif, Mata Air Keteladanan: Pancasila dalam Perbuatan, antara lain menawarkan cara untuk menghentikan arus balik yang berbahaya itu.
Pusat Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (PPM) UNPAD, Institut Nalar Jatinangor, dan Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Indonesia akan mendikusikan buku tersebut Rabu (25/6), pukul 15.00-17.00 WIB, di Pusat Studi Bahasa Jepang (PSBJ) Jatinangor. Pembicaranya Yudi Latif (Reform Institute), Taufik Ampera (PPM UNPAD), dan Benny Susetyo (Setara Institute).
Diskusi ini gratis dan 200 orang yang daftar lebih dulu akan dapat satu buku terbaru Yudi ini. (daf)