Warga Tolak Pembangunan Pabrik Nike di Haruman
Warga Perumahan Qoriyyah Toyyibah di Kampung Ciburial, Desa Haruman, Kecamatan Leles, menolak pembangunan pabrik sepatu Nike
Penulis: Muhamad Syarif Abdussalam | Editor: Kisdiantoro
GARUT, TRIBUN - Warga Perumahan Qoriyyah Toyyibah di Kampung Ciburial, Desa Haruman, Kecamatan Leles, menolak pembangunan pabrik sepatu Nike di dekat permukimannya. Hal tersebut diungkapkan dalam audiensinya di Kantor Kecamatan Leles, Rabu (11/6).
Camat Leles, Rusmanah, mengatakan audiensi tersebut dilakukan sebagai sosialisasi pembangunan pabrik tersebut kepada warga perumahan. Dari 83 warga yang menghadiri audiensi tersebut, kata Rusmanah, dua warga di antaranya berbicara cukup vokal dalam penolakan tersebut.
"Komunikasi dengan pihak Desa dan BPD sebenarnya sudah baik dan banyak warga yang setuju dengan pembangunan pabrik tersebut. Menurut saya, penolakan ada karena warga mengkhawatirkan sejumlah dampak dari pembangunan pabrik tersebut," kata Rusmanah di Kantor Kecamatan Leles, Rabu (11/6) malam.
Pembangunan pabrik sepatu tersebut, katanya, telah memenuhi seluruh izin dari dinas terkait. Sosialisasi pembangunan pabrik ini pun telah dilakukan berkali-kali terhadap warga dan Pemerintah Kabupaten Garut.
Pabrik ini akan didirikan di lahan seluas 30 hektare dalam beberapa tahap. Sesuai dengan program Bupati Garut, katanya, pembangunan pabrik ini dapat menyediakan lapangan pekerjaan bagi ribuan warga.
Kapolsek Leles, AKP Supian, mengatakan audiensi yang sempat memanas ini awalnya akan digelar di kantor desa. Namun, akibat keterbatasan fasilitas, pertemuan ini dialihkan ke kantor kecamatan.
"Jadi, bukan warga mendatangi kecamatan. Kami dari Muspika Leles akan melaporkan hasil pertemuan ini kepada pimpinan kami. Tidak semua warga di sekitar lokasi pembangunan menolak. Banyak di antaranya sudah menandatangani persetujuannya," katanya.
Warga Perumahan Qoriyyah Toyyibah, Solihin (57), mengatakan mengkhawatirkan dampak lingkungan dari pembangunan pabrik tersebut. Dikhawatirkan, jika pabrik didirikan, persediaan air tanah yang selama ini digunakan warga akan tersedot untuk keperluan pabrik.
Warga, katanya, mengkhawatirkan pembuangan limbah pabrik yang dapat ikut mengalir ke saluran pembuangan perumahan. Selain itu, polusi suara dari aktivitas pabrik dan kerusakan infrastruktur jalan pun dikhawatirkan berdampak kepada warga.
Tuturnya, warga meminta pemerintah mengkaji kembali pendirian pabrik yang berdekatan dengan permukiman tersebut. Seharusnya, pabrik didirikan berjauhan dengan permukiman yang dihuni sekitar 120 keluarga tersebut. (Sam)