Breaking News:

Potensi Laut Abalon Kering Bisa Seharga Rp 1 Juta Per Kilogram

PENIKMAT hidangan Tiongkok, Jepang, dan Korea pasti mengenal hasil laut eksklusif ini sebagai bahan dasar makanan istimewa. Pencinta

TRIBUN JABAR/M SYARIF ABDUSSALAM
Nelayan Sawargi di Pantai Manalusu, Kecamatan Cikelet, Garut menunjukkan abalon, hewan laut sejenis kerang yang memiliki harga sangat mahal, per satu kilogram dihargai Rp 1 Juta. 

Oleh M Syarif Abdussalam

PENIKMAT hidangan Tiongkok, Jepang, dan Korea pasti mengenal hasil laut eksklusif ini sebagai bahan dasar makanan istimewa. Pencinta film drama Korea pun tampaknya sudah tidak asing lagi dengan berbagai makanan berbahan dasar abalon yang kerap ditampilkan pada tayangan di filmnya.

Di negara-negara Asia Timur, abalon merupakan makanan laut yang kerap disandingkan dengan hidangan sarang burung walet atau sirip hiu. Di Jepang, abalon biasa disajikan sebagai sushi, sashimi, atau diasinkan.

Abalon merupakan hewan laut sejenis kerang yang memiliki harga yang sangat mahal jika dibandingkan dengan hasil laut lainnya. Biasanya, abalon disajikan dalam bentuk sup, abalon panggang, osengan, dan bubur abalon khas Korea. Hidangan ini biasa disajikan pada pesta pernikahan, perayaan, atau dihidangkan secara bebas di restoran ternama.

Siapa sangka, abalon bisa didapat dengan mudah saat musimnya di pantai selatan Garut. Para nelayan dari Kelompok Sawargi di Desa Cigadog, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut, biasanya mendapat sampai sepuluh kilogram abalon per hari.

Sekretaris Kelompok Sawargi, Sobri, mengatakan harga abalon basah mencapai Rp 110 ribu per kilogram. Jika dikeringkan dengan cara dibersihkan dan dilepas dari cangkangnya, harganya menjadi Rp 300 ribu. Jika dipanaskan sampai kering selama sepuluh hari, harganya melonjak menjadi Rp 1 juta per kilogram.

"Abalon ditangkap nelayan dengan cara menyelam ke karang dasar laut pada malam hari. Biasanya, abalon bersembunyi di celah karang dan terumbu karang. Karena sulit, harganya mahal," kata Sobri saat ditemui di Pantai Manalusu, Jumat (18/4).

Hebatnya, seluruh abalon hasil laut Garut Selatan ini diekspor ke Asia Timur, Eropa, dan Amerika Selatan. Harganya yang mahal membuat para nelayan enggan mengonsumsinya. Karenanya, mereka memilih untuk menjualnya.

Sobri mengatakan, bantuan dari Bank Indonesia tahun lalu, yakni generator dan tabung oksigen, sangat membantu para nelayan. Pasokan listrik yang terjamin ikut menjamin penyimpanan hasil laut pada peti es, termasuk abalon, sehingga tidak rusak.

Sobri mengatakan, selain abalon, di Pantai Manalusu dan laut lepasnya pun kerap ditemukan lobster. Biasanya nelayan mendapat sampai tiga kilogram lobster sehari. Harganya mencapai Rp 500 ribu sampai Rp 800 ribu satu kilogram. Teripang pun dapat dijual seharga Rp 300 ribu per kilogram. (*)

Penulis: Muhamad Syarif Abdussalam
Editor: Darajat Arianto
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved