Perdagangan Manusia

Warga Cianjur Mudah Diiming-imingi Kerja di Luar

Sedikitnya tiga kasus terkait dengan persoalan perempuan dan anak yang terpantau dan dilaporkan ke P2TP2A Kabupaten Cianjur

Penulis: cis | Editor: Kisdiantoro

CIANJUR, TRIBUN - Sedikitnya tiga kasus terkait dengan persoalan perempuan dan anak yang terpantau dan dilaporkan ke Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Cianjur sepanjang Januari-Maret 2014 ini.

Hal itu dikatakan Kepala Bidang (Kabid) Advokasi dan Penanganan Kasus P2TP2A Kabupaten Cianjur, Lidya Indayani Umar kepada Tribun, Selasa (11/3).

"Yang melapor ke kami itu ada dua warga Cianjur yang bekerja di Malaysia tapi hilang kontak. Sedangkan dua kasus lainnya, yaitu seorang pembantu asal Cianjur kasus penyekapan di rumah istri mantan pejabat Polri di Bekasi dan ekploitasi seksual sejumlah gadis asal Cianjur di Kalijodo, Jakarta," ujar Lidya ketika ditemui di kantor P2TP2A Kabupaten Cianjur.

Diakui Lidya, dari sejumlah kasus dan temuan baik itu penyekapan pembantu rumah tangga (PRT), korban ekploitasi seks, dan trafiking memang kerap terdapat wanita asal Kabupaten Cianjur. Menurutnya, dari data yang dihimpun P2TP2A pada 2013, banyak wanita asal Kabupaten Cianjur menjadi korban eksploitasi seksual di luar daerah. Sementara traficking dan kekerasan terhadap PRT jumlahnya kasusnya di bawah korban ekploitasi seksual.

"Di daerah Cianjur memang menjadi tempat mencari orang yang membutuhkan pekerjaan sehingga ketika ada yang menawarkan banyak yang tertarik terutama di daerah terpencil dan pedesaan. Kalau dilihat sosiokulturnya, memang banyak wanita lebih tertarik dan mudah diming-imingi untuk kerja di luar. Contohnya pengiriman TKI, walau ada moratorium tapi tetap saja keinginan berangkatnya masih besar. Sebab bagi mereka, itu peluang yang besar untuk mendapatkan penghasilan besar tanpat pendidikan tinggi," ujar Lidya.

Lidya menambahkan, banyak wanita asal Kabupaten Cianjur belum melihat dan menyadari risiko pekerjaan yang akan dijalaninya nanti. Mereka hanya tertarik terhadap jenis dan hasil dari pekerjaan yang ditawarkan. Menurutnya, hal itu disebabkan faktor lingkungan menyusul banyak wanita berpendidikan pun banyak yang menjadi korban.

"Mereka hanya melihat tetangga kerja dan bisa menghasilkan. Itu yang menjadi daya tarik. Belum lagi jika melihat ada tetangganya bisa beli sawah dan rumah dari pekerjaannya itu, akhirnya tertarik untuk berangkat tanpa memikirkan nasib orang itu tidak sama. Ditipu atau tidak itu urusan belakang lantaran hanya melihat kesuksesan orang dari luarnya saja," ujar Lidya.

Dikatakan Lidya, peluang dan lapangan pekerjaan di Kabupaten Cianjur sebetulnya sangat terbuka. Pemerintah Kabupaten Cianjur sendiri memberikan lapangan kerja melalui home industri. Selain itu sejumlah perusahaan di Kabupaten Cianjur masih membutuhkan karyawan pribumi.

"Sebenarnya kalau paham bekerja di home industri dan di perusahaan yang ada di Kabupaten Cianjur kecil kemungkinan terjadi kasus-kasus seperti itu. Tapi memang info untuk home industri dan lapangan kerja ini sulit didapat dan akhirnya terpengaruh dengan lingkungan sekitar dengan bekerja secara migras baik antarkota, provinsi, dan negara. Apalagi dengan begitu aman tidak perlu ijazah dan ada keuntungan ketika ada yang menawarkan," ujar Lidya.

Dikatakan Lidya, pihaknya sendiri terus gencar melakukan sosialiasi terkait dengan modus trafiking, penipuan pekerjaan, dan lainnya. Ditambah lagi pemahaman tentang pertaturan perundang-undangan yang terkait dengan hal tersebut.

"Sejauh ini memang belum maksimal karena masih ada imej jika melapor itu harus mengeluarkan biaya. Meski begitu warga Kabupaten Cianjur yang sudah paham mulai banyak yang melapor," ujar Lidya. (cis)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved