Breaking News:

Donor Ginjal Berisiko Kecil Alami Gagal Ginjal

Donor ginjal mungkin terdengar sebagai putusan yang sangat berisiko

SEBAGIAN orang mengkhawatirkan kesehatannya bila harus kehilangan salah satu ginjal akibat donor. Hal inilah yang kemudian menghalangi orang untuk mendonorkan ginjal. Padahal, operasi dengan donor ginjal hidup memiliki peluang berhasil lebih tinggi.

Donor ginjal mungkin terdengar sebagai putusan yang sangat berisiko. Namun riset membuktikan risiko gagal ginjal paskadonasi sangat rendah.

Dalam riset yang dipublikasikan  Journal of the American Medical Association, peneliti menganalisa 96.217 pendonor ginjal. Para peneliti ingin mengetahui peluang pendonor mengalami End Stage Royal Disease (ESRD) dibanding populasi umum. Di Amerika, setiap tahun ada sekitar 6 ribu orang dewasa yang mendonorkan ginjalnya pada keluarga atau siapapun yang membutuhkan.

Hasilnya, tim menemukan pendonor berisiko lebih rendah mengalami ESRD dibanding populasi umum. Pada donor risiko menderita ESRD di usia 80 adalah 90/10 ribu. Angka tersebut lebih rendah dibanding pada masyarakat umum yaitu 326/10 ribu.

Peneliti juga membandingkan risiko ESRD antara pendonor ginjal dan orang yang tidak mendonor namun cukup sehat untuk melakukannya. Pada perbandingan ini, risiko menderita ESRD pada donor lebih tinggi dibanding non-donor yang sehat.

Risiko mengalami ESRD pada pendonor adalah 30,8/10 ribu pasien, setelah 15 tahun melakukan donasi. Sedangkan pada responden sehat namun bukan pendonor kemungkinan ini adalah 3,9/10 ribu responden, dengan durasi waktu yang sama.

Berdasarkan studi ini peneliti mengatakan, seseorang tidak perlu merasa khawatir bila akan mendonorkan ginjal akibat takut infeksi. Angka rata-rata kejadian infeksi usai donor ginjal sangat rendah.

"Memang bila dibandingkan orang sehat yang tidak mendonor, risiko pendonor lebih tinggi. Namun kekhawatiran terbesar akibat peningkatan risiko jelas kecil. Temuan ini akan menolong saat diskusi mempertimbangkan kehidupan pendonor setelah donor ginjal," terang peneliti.  (kompas.com)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved