Breaking News:

Sedih, 12 Ribu Buku Koleksi Museum Asia Afrika Tak Banyak yang Baca

Museum Konperensi Asia Afrika (KAA) bekerjasama dengan Ikapi Jabar mengadakan Pekan Literasi Asia Afrika yang dibuka pada Sabtu (15/2)

Editor: Kisdiantoro

BANDUNG, TRIBUN - Untuk membangkitkan literasi masyarakat khususnya anak-anak muda, Museum Konperensi Asia Afrika (KAA) bekerjasama dengan Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) Jabar mengadakan Pekan Literasi Asia Afrika yang dibuka pada Sabtu (15/2) di Ruang Utama Gedung Merdeka, Museum Konperensi Asia Afrika Bandung.

Diresmikan oleh Direktur Diplomasi Publik pada Direktorat Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik, Al Busyra Basnur, acara yang akan diselenggarakan selama empat hari tersebut menyajikan beragam acara literasi, seperti taman bacaan, pameran buku, bedah buku, story telling, dan pemutaran film.

Selain untuk mempromosikan perpustakaan museum, menurut Kepala Museum Konperensi Asia Afrika, Thomas Ardian Siregar, pekan literasi tersebut juga diadakan untuk membangkitkan minat baca masyarakat yang masih rendah dan memprihatinkan.

"Ada 12 ribu buku di sini. Sedih jika lihat buku rapi tapi nggak ada yang datang, lebih baik jika banyak masyarakat yang membacanya, "ujarnya.

Sebelumnya, Museum KAA sendiri sudah memiliki program terkait literasi. Seperti Asia Afrika Reading Club yang diadakan setiap hari rabu dengan membaca lalu mendiskusikan isi buku yang dibaca. Selain itu, ada pula program Layar Kita untuk diskusi film.

Pada hari kedua, Minggu (15/2), Pekan literasi akan menggelar sesi bedah buku "Ujungberung Rebels: Panceg Dina Galur" dan "Sang Penolak Sejarah". Sedangkan di hari ketiga akan diadakan acara menonton film "Shrek" dan diskusi buku "Melihat Dunia Tanpa Mata".
Pekan literasi perdana ini, menurut Thomas, menjadi acara uji coba. Jika respon masyarakat bagus, tifak menutup kemungkinan akan dilanjutkan dengan acara-acara lainnya terkait literasi. Bahkan jika antusiasme pengunjung tinggi, pihaknya ingin meyakinkan pemerintah daerah untuk membantu memfasilitasi ruangan dengan yang lebih luas agar dapat mengadakan acara yang lebih besar lagi.

Thomas menambahkan, pekan literasi tersebut sekaligus penegasan bahwa semua orang sesungguhnya memiliki kewajiban moral untuk membangkitkan literasi.
"Tanpa literasi yang kuat, kita akan jadi bangsa yang ketinggalan," tegasnya. (tj2)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved