Feature

Usman Muda Terpincut Militer Sejak SMP

Ketegangan menguat setelah pemimpin militer Indonesia batal menghadiri Singapore Airshow, pameran dirgantara terbesar di Singapura

Editor: Deni Ahmad Fajar

HUBUNGAN Indonesia dan Singapura mendadak panas. Ketegangan menguat setelah pemimpin militer Indonesia batal menghadiri Singapore Airshow, pameran dirgantara terbesar di Singapura. Aksi tersebut menyusul pembatalan undangan untuk Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoedin karena Indonesia tetap ngotot menamakan kapal Republik Indonesia dengan label Usman Harun.
Bagi Singapura, dua tokoh dalam nama kapal tersebut dianggap selaku orang jahat karena melakukan pengeboman di negara itu. Sebaliknya, Indonesia menilai keduanya adalah pahlawan lantaran berjuang saat Indonesia berkonfrontasi dengan Malaysia. Seperti apa jejak Usman dan Harun hingga menggegerkan dua negara tetangga, berikut jejak Usman dan Harun yang dihimpun Tribun.
=
USMAN alias Oesman bin H Moch Ali memiliki nama kecil saat tinggal di Desa Tawangsari, Kelurahan Jatisaba, Kabupaten Purbalingga. Djanatin, begitulah Usman kecil disapa. Catatan Drs. Murgiyanto dalam buku bertajuk Usman dan Harun Prajurit, yang dicetak Pustaka Bahari, menyebut, Djanatin lahir pada Minggu Kliwon, 18 Maret 1943. Djanatin lahir dari rahim Rukiah sekitar pukul 10.00 pagi.
Djanatin pun tumbuh. Ia dikenal sebagai sosok yang pendiam dan tidak sombong di Desa Tawangsari. Bulu tangkis merupakan olahraga favorit Djanatin. Sepetak tanah milik keluarga Djanatin dijadikan lahan untuk bermain bulu tangkis Djanatin kecil.
Saat duduk di kelas tiga SMP Purbalingga, Djanatin sudah terpincut untuk menjadi militer. Ia mengagumi militer lantaran kerap memperhatikan sang kakak yang telah berdinas di militer. "Bila kakaknya pulang, selalu mendapat perhatian dari Djanatin, baik pakaian seragam, sikap, maupun geraknya," tulis Murgiyanto.
Gayung pun bersambut. Setelah menamatkan pendidikan SMP, Djanatin memilih masuk ABRI. Ia masuk ABRI setelah Presiden Soekarno menerbitkan Trikora pada 19 Desember 1961. Indonesia, yang tengah berkonfrontasi dengan Belanda, membutuhkan tenaga pemuda untuk menyukseskan gelar operasi militer di Irian Barat.
Semula niat Djanatin menjadi anggota ABRI tidak mendapat restu dari bapaknya, Haji Muhammad Ali. Ali menghendaki Djanatin melanjutkan sekolah dengan jenjang yang lebih tinggi. Apalagi, ketiga kakak Djanatin sudah bergabung ke militer.
Djanatin lalu mengatur siasat. Ia menemui ibu dan meminta restu. Strategi itu pun manjur. Djanatin akhirnya mendapat restu dari orang tua.
Pada 1962, Djanatin mengikuti pendidikan militer di Malang. Pendidikan digelar Korps Komando Angkatan Laut. Sekolah calon tamtama (Secatamko) itu berlangsung selama enam bulan. "Djanatin termasuk siswa angkatan kesepuluh," tulis Murgiyanto.
Pendidikan berlangsung bertahap. Setiap siswa mengikuti pendidikan dasar militer di Gunung Sahari. Setelah itu, Djanatin cs mengikuti pendidikan amfibi di pusat latihan pasukan pendarat di Semampir. Dan akhirnya, pendidikan diadakan di Purboyo, Malang Selatan, dalam bentuk Suroyudo. Seusai pendidikan tersebut, Djanatin mendapatkan baret ungu dan menjadi penggawa dalam operasi Trikora.
Sukses mengikuti operasi Trikora. Djanatin pada April 1964 mendapat pelatihan khusus di Cisarua, Bogor. Pelatihan itu diadakan setelah Presiden Soekarno mengeluarkan Dwikora pada 3 Mei 1964.
 Pelatihan selama satu bulan itu dipimpin Mayor KKO Boedi Prayitno dan Letnan KKO Harahap. Di sinilah, Djanatin mendapat materi intelijen, kontra intelijen, sabotase, demolisi, gerilya, perang hutan, dan lain-lain.
Djanatin sendiri merupakan satu dari 300 anggota yang mengikuti pelatihan khusus tersebut. Selepas pelatihan, mereka ditugasi di daerah Semenanjung Malaya (basis II) dan Kalimantan Utara (basis IV).
Djanatin berada di daerah Semenanjung Malaya, dengan subbasisnya berada di Pulau Sambu. Ia berangkat menuju Pulau Sambu menggunakan kapal jenis MTB. Djanatin lalu bergabung dengan tim Brahma I di bawah komando Kapten Paulus Subekti. Di sinilah, Djanatin berkenalan dengan Harun bin Said alias Tohir dan Gani bin Arup. Keduanya merupakan anak buah Djanatin. Djanatin cs mendapat tugas melakukan sabotase di Singapura.
Namun, upaya sabotase Djanatin cs di Singapura terbilang rumit. Konfrontasi Indonesia dan Malaysia membuat kedua negara bersiaga di perbatasan. Untuk menembus blokade Singapura, Djanatin memilih strategi menyamar. Untuk memuluskan aksi penyamaran, Djanatin pun menggunakan nama samaran, Usman. Nama Usman ini lalu disambungkan dengan nama ayahnya, Haji Muhammad Ali. Adapun Tohir menggunakan nama samaran Harun, atau lengkapnya Harun bin Said.
Penyamaran itu terbilang sukses. Mereka berhasil melakukan pengeboman di Macdonald House, Singapura. Aksi mereka menyebabkan tiga orang tewas dan 33 orang mengalami luka. (tribunnews)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved