Breaking News:

Budaya

Berawal dari Kisah Berhaji Pangeran Cakrabuana

MENURUT Sultan Sepuh penggunaan koin dinar dirham di lingkungan keraton berawal ketika Pangeran Cakrabuana pergi menunaikan ibadah haji.

Penulis: roh | Editor: Oktora Veriawan
Berawal dari Kisah Berhaji Pangeran Cakrabuana
tribun jabar/ida romlah
Pengunjung melihat kerajinan topeng Cirebon dan koin dinar dirham dalam pameran benda pusaka acara GCSKN 2013 di Keraton Kasepuhan Cirebon, Sabtu (30/11). Koin dinar dirham dari Kesultanan Kasepuhan Cirebon mampu menyedot perhatian pengunjung.

MENURUT Sultan Sepuh XIV Kesultanan Kasepuhan Cirebon, PRA Arief Natadiningrat, penggunaan koin dinar dirham di lingkungan keraton berawal ketika Pangeran Cakrabuana bersama adiknya, Nyi Mas Rarasantang, pergi menunaikan ibadah haji. Ketika berada di Mekah, keduanya bertemu dengan patih utusan sultan Mesir. Sang patih pun meminang Nyi Mas Rarasantang untuk Sultan Maulana Syarif Abdullah.
Selepas berhaji, Pangeran Cakrabuana dan Nyi Mas Rarasantang dibawa ke Mesir. Nyi Mas Rarasantang pun membina rumah tangga dengan Sultan Mesir hingga akhirnya lahir bayi laki-laki bernama Syarif Hidayatullah. Setelah dewasa, Syarif Hidayatullah hijrah ke tanah Jawa, dan dikenal sebagai Sunan Gunung Jati.
Sementara itu, ketika Pangeran Cakrabuana meninggalkan Mesir, ia dibekali pesangon sebesar 1.000 dirham perak oleh Sultan Mesir. "Bisa jadi koin dirham tersebut yang pertama kali masuk ke Cirebon dan tanah Jawa," kata Sultan Sepuh.
Dari kisah itulah, selanjutnya, dinar dirham di Kesultanan Cirebon sempat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Namun seiring zaman, koin dinar dirham sempat tak digunakan di lingkungan keraton karena bangsa Indonesia memiliki mata uang rupiah untuk transaksi jual-beli. Barulah beberapa tahun ke belakang, dinar dirham dihidupkan kembali.
Koin dinar dirham mampu mencuri perhatian pengunjung pameran benda pusaka dalam helaran GCSKN 2013 karena kesultanan dan kerajaan lain rata-rata memamerkan benda pusaka dalam foto. Hanya Kesultanan Kasepuhan dan Sumedang Larang yang langsung membawa benda pusaka.
Sumedang Larang membawa pakaian kebesaran kerajaan. Pakaian itu pun dipamerkan dalam patung yang menyerupai raja dan permaisurinya. (roh)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved