Breaking News:

Seni Tradisi

Suara Meriam Bambu Curi Perhatian Penonton

Berkali-kali penonton dikejutkan dentuman meriam, tapi berkali-kali pula penonton penasaran akan bentuk meriam bambu. Akibatnya, mereka

Penulis: roh
Editor: Darajat Arianto
Suara Meriam Bambu Curi Perhatian Penonton
Tarsisius Sutomonaio
MENUJU MAKAM - Warga mengarak berbagai bentuk replika tokoh dan binatang pada Sedekah Bumi dan Nadran menuju kompleks makam Sunan Gunung Jati, Cirebon, Jumat (23/11/2012).

Oleh Ida Romlah

SUARA meriam bambu yang dinyalakan sejumlah remaja dalam ider-ideran nadran masyarakat Gunung Jati, Jumat (15/11), mencuri perhatian penonton. Berkali-kali penonton dikejutkan dentuman meriam, tapi berkali-kali pula penonton penasaran akan bentuk meriam bambu. Akibatnya, mereka berlomba melihat meriam dari dekat.

"Aw!" jerit penonton saat mendengar dentuman meriam bambu. Tawa pun pecah dari penonton lain, begitu mendengar ada penonton yang menjerit atau berteriak.

"Aduh, kaget banget, tapi seru. Seru aja, kayak perang-perangan," ujar salah seorang penonton, Wulan, mengenai meriam bambu yang berkali-kali dinyalakan.

Meriam bambu menjadi satu dari sekian benda yang diarak dalam ider-ideran nadran masyarakat Gunung Jati, kemarin. Meriam tersebut didorong oleh sejumlah remaja. Berkali-kali meriam pun dinyalakan.

Selain meriam bambu, replika kereta kencana, naga, dan binatang lain ikut memeriahkan ider-ideran nadran masyarakat Gunung Jati. Tidak ketinggalan, seorang perempuan berdandan ala Srikandi di masa peperangan lengkap membawa panah ikut dalam ider-ideran. Perempuan itu pun menunggang kuda.

Peserta ider-ideran yang berpakaian ala dayak Losarang juga tak luput dari perhatian. Peserta ini bertelanjang dada dan hanya mengenakan bawahan berbentuk rok dari tali rafia. Mereka menghitamkan sekujur badannya dan terus berlari kecil di sisi paling pinggir atau dekat dengan penonton.

Sesekali peserta ala dayak Losarang ini meniup peluit dan memukul alat yang mereka bawa. Kontan penonton kaget dan menjauh karena takut terkena tempelan noda hitam dari tubuh para dayak itu.

Ider-ideran nadran masyarakat Gunung Jati tahun ini tetap meriah. Hanya hujan yang turun sejak pukul 14.15 yang membuat ciut beberapa penonton. Mereka pun urung menonton ider-ideran dan memilih membubarkan diri akibat guyuran hujan. Padahal penonton sudah memadati jalan lintasan ider- ideran sejak pukul 13.00.

Ider-ideran tetap berjalan normal meski di bawah guyuran hujan. Warga yang berpartisipasi dalam acara tersebut tetap bersemangat walau tubuh basah kuyup.

Ider-ideran nadran dimulai pukul 14.00 dari Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, melintasi Jalan Raya Sunan Gunung Jati untuk kemudian tiba di depan Gedung Negara Badan Koordinasi Pemerintah dan Pembangunan (BKPP) Wilayah III Cirebon di Krucuk, Kota Cirebon. Dari Krucuk, mereka kembali ke Desa Astana.

Sepanjang acara, lalu lintas dialihkan ke jalan lain. Jalan Raya Sunan Gunung Jati pun baru dibuka lagi selepas Magrib atau sekitar pukul 18.00.

Ider-ideran merupakan rangkaian upacara nadran masyarakat pesisir Gunung Jati. Ini bentuk luapan kegembiraan dan syukur atas limpahan rezeki selama setahun ke belakang. Selain itu juga merupakan doa agar pada tahun mendatang diberi rezeki yang lebih berlimpah. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved