Breaking News:

4 Juta Pelaku UKM Jabar Belum Masuk Koperasi

Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah Jabar, terus mendorong agar para pelaku usaha mikro kecil (UKM) bergabung dalam koperasi.

Penulis: Tarsisius Sutomonaio
Editor: Darajat Arianto
4 Juta Pelaku UKM Jabar Belum Masuk Koperasi
Ida Romlah
ILUSTRASI pameran UMKM

BANDUNG, TRIBUN - Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (KUMKM) Jabar, terus mendorong agar para pelaku usaha mikro kecil (UKM) bergabung dalam koperasi.

"Sejauh ini, belum sampai 50 persen pelaku UMK yang bergabung dengan koperasi," ujar Kepala Dinas KUMKM Jabar, Anton Gustomi, ketika dihubungi Tribun melalui ponselnya, Jumat (15/11). Berdasarkan catatan akhir tahun 2012, tercatat sekitar 8,7 juta pelaku UMK di Jabar.

Artinya, sekurang-kurangnya, 4,3 juta pelaku UMK berjalan sendiri. "Saat ini, ada 24.916 koperasi di Jabar," katanya. Sebagian besar sebagai koperasi aktif. Dinas KUMKM Jabar bersama Badan Pusat Statistik (BPS) Jabar pun sedang menghitung jumlah pelaku UKM di Jabar sepanjang 2013.

Menurut dia, koperasi sebagai satu media memudahkan pelaku UKM mendapatkan akses pembiayaan dari bank. Anton mengaku pihaknya gencar menyosialisasikan koperasi kepada masyarakat. Belakangan, ia dan kawan-kawan sering melakukan sosialisasi tentang koperasi kepada para mahasiswa.

"Trend saat ini, mahasiswa punya usaha kecil-kecilan sebelum lulus kuliah. Perlu ada bimbingan," kata Anton. Dengan begitu, usaha-usaha kecil itu terus bertumbuh. Berdasarkan catatan BPS Jabar, pertumbuhan industri mikro kecil di Jabar pada triwulan 2013 turun 7,29 persen dari triwulan II.

Lima belas dari 22 jenis industri mengalami pertumbuhan negatif. Itu karena industri mikro kecil rentan terhadap pelemahan rupiah, kenaikan tarif dasar listrik (TDL) dan tarif tol terutama untuk pendistribusian barang.

Padahal, selama triwulan II  industri ini tumbuh sebesar 9,39 persen. Pertumbuhan minus industri mikro kecil di Jabar di bawah pertumbuhan industri yang sama secara nasional yang juga mengalami pertumbuhan minus 4,45 persen.

Pada Kamis (14/11), Kadis Perdagangan dan Perindustrian (Kadisperindag) Jabar, Ferry Sofyan, khawatir kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) bisa mengganggu UMKM lantara membuat cicilan pinjaman naik. Efeknya, biaya produksi naik lalu harga produk pun naik.

Anton berpendapat serupa. Namun, ia mengaku belum pernah membuat penelitian tentang pengaruh BI rate terhadap pelaku-pelaku UKM di Jabar.  (*)

Tags
UMKM
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved